Donderdag, 25 April 2013

BAHASA INDONESIA SALAH NALAR




 DALAM PEMBAHASAN MATERI BAHASA INDONESIA YAITU Latar Belakang
            Berpikir adalah obyek material logika. Yang dimaksudkan dengan berpikir di sini ialah kegiatan pikiran, akal budi manusia. Dengan berpikir manusia mengolah, mengerjakan pengetahuan yang telah diperoleh. Dengan mengolah dan mengerjakan ia dapat memperoleh kebenaran. Pengolahan, pengerjaan ini terjadi dengan mempertimbangkan, menguraikan, membandingkan serta menghubungkan pengertian yang satu dengan pengertian lain. Oleh karena itu, obyek material logika bukanlah bahan-bahan kimia atau salah satu bahasa.
Akan tetapi, bukan sembarangan berpikir yang diselelidiki dalam logika, melainkan dalam logika berpikir dipandang dari sudut kelurusan, ketepatan. Oleh karena itu, berpikir lurus, tepat, merupakan obyek formal logika. Kapan suatu pemikiran disebut lurus? Suatu pemikiran disebut lurus, tepat, apabila pemikiran itu sesuai dengan hukum-hukum dan aturan-aturan yang ditetapkan dalam logika. Kalau peraturan-peraturan itu ditepati, dapatlah pelbagai kesalahan atau kesesatan dihindarkan. Jadi, kebenaran juga dapat diperoleh dengan lebih mudah dan lebih aman. Semua ini menunjukkan bahwa logika merupakan suatu pegangan atau pedoman untuk pemikiran.
Atas dasar itu, gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat disebut salah nalar. Salah nalar disebabkan oleh ketidaktepatan orang mengikuti tata cara pikirannya.

1.2    Rumusan Permasalahan
             Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas maka permasalahan yang menjadi perhatian dalam pembuatan makalah ini adalah, Bagaimana mengatasi kesalahan dalam penalaran dalam berkomunikasi.

1.3 Tujuan Penulisan
          Makalah ini disusun bertujuan untuk menambah ilmu dan pengetahuan mengenai masalah yang diangkat dalam makalah, serta menambah wawasan supaya meminimalkan kesalahan penalaran dalam berkomunikasi.

1.4  Metode Penulisan
           Dalam menyusun makalah ini, penulis menggunakan metode literatur yaitu dengan mengkaji buku sebagai acuan yang sesuai dengan pembahasan dan browsing data di internet.

1.5  Sistematika Penulisan
          Sistematika penulisan dalam penyusunan makalah ini, ialah sebagai berikut:
BAB I. PENDAHULUAN
          Pada bab ini dibahas mengenai latar belakang, perumusan masalah,
tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.
BAB II. PEMBAHASAN
Pada bab ini di bahas mengenai definisi salah nalar, macam-macam salah nalar, Salah Nalar dalam Komunikasi
BAB III. PENUTUP
          Pada bab ini berisi mengenai kesimpulan dan saran.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Salah Nalar
            Salah nalar merupakan Gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat. Dalam proses berpikir sering sekali kita keliru menafsirkan atau menarik kesimpulan, kekeliruan ini dapat terjadi karena faktor emosional, kecerobohan, atau ketidaktahuan.
Contoh salah nalar :
Emilia, seorang alumni STIE Serelo Lahat, dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Oleh sebab itu, Halimah seorang alumni STIE Serelo Lahat, tentu dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.

2.2 Macam-macam Salah Nalar
            Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang tepat pada sasarannya, oleh karena itu dalam berkomunikasi perlu kita perhatikan kalimat dalam berbahasa Indonesia secara cermat. Sehingga salah nalar dapat terminimalisasikan.
Ada beberapa macam salah nalar, yakni sebagai berikut :
a.    Deduksi yang salah
     Simpulan dari suatu silogisme dengan diawali premis yang salah atau tidak memenuhi persyaratan.
     Contoh dari Deduksi yang salah :
-          Kalau listrik masuk desa, rakyat di daerah itu menjadi cerdas.

b.   Generalisasi Terlalu Luas
Salah nalar jenis ini disebabkan oleh jumlah premis yang mendukung generalisasi tidak seimbang dengan besarnya generalisasi tersebut sehingga kesimpulan yang diambil menjadi salah.
Contoh Generalisasi Terlalu Luas :
-          Setiap orang yang telah mengikuti Penataran P4 akan menjadi manusia Pancasilais sejati.
-          Anak-anak tidak boleh memegang barang porselen karena barang itu cepat pecah.

c.    Pemilihan Terbatas pada Dua Alternatif
Salah nalar ini dilandasi oleh penalaran alternatif yang tidak tepat dengan pemilihan jawaban yang ada.
Contoh Pemilihan Terbatas pada Dua Alternatif :
-          Orang itu membakar rumahnya agar kejahatan yang dilakukan tidak diketahui orang lain.
-          Petani harus bersekolah supaya terampil.

d.   Penyebab yang Salah Nalar
Salah nalar ini disebabkan oleh kesalahan menilai sesuatu sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran maksud.
Contoh Penyebab yang Salah Nalar :
-          Hendra mendapat kenaikan jabatan setelah ia memperhatikan dan mengurusi makam leluhurnya.
-          Anak wanita dilarang duduk di depan pintu agar tidak susah jodohnya.

e.    Analogi yang Salah
Salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain.
Contoh Analogi yang Salah
-          Anto walaupun lulusan Akademi Amanah tidak dapat mengerjakan tugasnya dengan baik.
-          Pada hari senin Patriana kuliah mengendarai sepeda motor. Pada hari selasa Patriana kuliah juga mengendarai sepeda motor. Pada hari rabu patriana kuliah pasti mengendarai sepeda motor.
-          Rektor harus memimpin universitas seperti jenderal memimpin divisi.

f.     Argumentasi Bidik Orang
Salah nalar jenis ini disebabkan oleh sikap menghubungkan sifat seseorang dengan tugas yang diembannya.
Contoh Argumentasi Bidik Orang :
-          Kusdi kesulitan membuat tugas makalah bahasa Indonesia karena tidak mempunyai materi bahasa Indonesia.
-          Deliana tidak bias menikah lagi karena ia sudah janda.

g.    Meniru-niru yang Sudah Ada
Salah nalar jenis ini berhubungan dengan anggapan bahwa sesuatu itu dapat kita lakukan kalau orang lain melakukan hal itu.
Contoh Meniru-niru yang Sudah Ada :
-          Kita bisa melakukan korupsi karena pejabat pemerintah melakukannya.
-          Saat Ujian Akhir Semester mata kuliah Bahasa Indonesia Slamet mencotek, karena pada mata kuliah Statistik Fitriawati juga mencontek.  

h.   Penyamarataan Para Ahli
Salah nalar ini disebabkan oleh anggapan orang tentang berbagai ilmu dengan pandangan yang sama. Hal ini akan mengakibatkan kekeliruan mengambil kesimpulan.
Contoh Penyamarataan Para Ahli :
-          Dosen mata kuliah Bahasa Indonesia adalah Diska, Sarjanah Ekonomi.
-          Sarifah pandai membuat kue, ia adalah lulusan SMEA.
         
1.3    Salah Nalar dalam Komunikasi
            Salah satu penyampaian komunikasi adalah berita, baik itu dari media elektronik, ataupun dari media massa. Penyampaian berita yang dsampaikan sering sekali terjadi kesalahan dalam berpikir, sehingga dapat mengakibatkan kesalahan dalam penalaran/nalar bagi penerima berita.
Kekurangcermatan seseorang atau jurnalis dalam melihat hubungan logis antara satu fakta dengan fakta lain dalam konteks hubungan sebab-akibat, dan kekurangcermatan itu kemudian dituangkan dalam teks berita, bisa menyesatkan “logika” pembaca atau pemirsa. Ketika pembaca atau pemirsa menganggap teks yang dihasilkan jurnalis itu sebagai sebuah kebenaran, maka kesesatan logika pun jadi dianggap benar.
            Fakta berupa pernyataan yang mengandung salah  nalar atau sesat logika memang bisa saja berasal dari narasumber. Bisa saja narasumber sengaja untuk kepentingan tertentu, atau tak sengaja karena sebab tertentu. Namun, bukan berarti jurnalis bisa begitu saja meloloskannya  menjadi fakta dalam teks berita. Bahkan, pada tahap awal, jurnalis  seharusnya langsung mempersoalkan pernyataan yang salah nalar itu kepada narasumber.

Sebagai contoh pernyataan salah nalar muncul di dua media cetak, Kedaulatan Rakyat (24/3/09, hal 24) dan Koran Tempo (25/3/09, hal B3) :
-       Pada Kedaulatan Rakyat, salah nalar muncul di alinea ke-5 berita berjudul Golput Rugikan Proses Demokrasi. Berita ini memuat pernyataan dua pimpinan partai politik tentang golput pada saat keduanya kampanye, yaitu Yusril Ihza Mahendra (Ketua Majelis Syuro Partai Kebangkitan Bangsa) dan MS Kaban (Ketua Umum Partai Bulan Bintang).
Alinea ke-5 berita tersebut, yang hanya terdiri atas tiga kalimat (dua kalimat tak langsung dan satu kalimat langsung berupa kutipan), memuat pernyataan MS Kaban tentang golput. Alinea selanjutnya berisi topik lain yaitu tentang panwaslu. 
Alinea ke-5 ditulis demikian:
Hal senada diungkapkan Ketua Umum PBB, MS Kaban. Menurut Kaban, golput merupakan tindakan orang yang tidak bertanggungjawab. “Sebab kita saat ini sedang mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujarnya.

-       Pada Koran Tempo salah nalar muncul pada berita tentang kelangkaan pupuk. Persoalan salah nalar  mulai di judul hingga di tubuh berita. Judul berita suratkabar ini demikian: Pupuk Langka karena Petani Belum Ikut Kelompok Tani.
Pada lead (memimpin), salah nalar di judul dipertegas.
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah Aris Budiono menyatakan kelangkaan atau kesulitan petani dalam memperoleh pupuk pada musim tanam kedua tahun ini disebabkan masih banyak petani yang belum masuk kelompok tani.
Jadi, maksud dari penalaran adalah untuk menemukan kebenaran. Dan Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi :
·         Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
·         Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.
·         penyebab salah nalar
·         Penulis: Ashadi Siregar dkk

I. Memberitakan Peristiwa, Untuk Apa?

Berita merupakan rekonstruksi tertulis dari peristiwa yang terjadi. Peristiwa perlu diberitakan paling tidak karena dua alasan, yaitu untuk memenuhi tujuan politik keredaksian suatu media massa atau memenuhi kebutuhan pembaca.

Tujuan politik suatu media massa diantaranya tujuan ekonomis, yaitu tercapainya oplah penjualan tinggi, dan tujuan ideologis, yaitu untuk mempengaruhi dan membujuk pembaca agar berbuat serta bersikap sesuai dengan tujuan ideologis yang hendak dicapai.

Dari sisi pembaca, alasan memberitakan suatu peristiwa terletak dalam sikap manusia yang selalu ingin memperbaiki dan meningkatkan harkat kehidupannya. Dalam upaya itu, manusia selalu ingin mencari informasi agar ia dapat mengetahui apa yang harus ia lakukan serta bagaimana melakukannya.

Kedua hal di atas merupakan latar belakang untuk apa berita ditulis, yaitu memenuhi kepentingan pembaca dan kepentingan media massa dalam mencapai tujuan masing-masing. Adanya kepentingan yang melatarbelakangi penulisan berita membuat wartawan selalu memilih peristiwa yang diberitakan. Peristiwa hanya pantas diberitakan apabila mengandung nilai informative bagi pembaca dan sesuai dengan tujuan media massa. Oleh karenanya wartawan juga harus tahu segmentasi dan karakteristik dari pembaca media massa tempat ia bekerja.

Mengenali Karakteristik Pembaca

Surat kabar atau majalah berita diterbitkan berdasarkan kebutuhan informasi pembacanya. Oleh karena itu berita yang dimuat harus cocok dengan pembacanya (penting atau menarik). Dengan demikian, apa yang diberitakan dan bagaimana berita itu ditulis agar bermanfaat sekaligus mudah dipahami pembaca menjadi pertimbangan dasar dalam menulis berita. Konsekuensinya, apa yang diberitakan dan bagaimana berita itu ditulis hanya dapat diketahui setelah mengenali siapa pembaca yang dituju.

Mengenali siapa pembaca berarti mengenali latar belakang pembaca, apa kecenderungan mereka dalam menggunakan informasi yang diperoleh lewat pemberitaan surat kabar. Secara umum, latar belakang pembaca dapat dikenali berdasarkan tiga aspek yaitu aspek geografis, aspek sosiografis, dan aspek psikografis.

1. Aspek Geografis : Pembaca terbesar surat kabar berada di sekitar lokasi di mana surat kabar itu diterbitkan. Kondisi social-budaya setempat berpengaruh terhadap karakter setiap orang yang beriam dalam jangka waktu di tempat tersebut.
2. Aspek Sosiografis : Perbedaan status sosial (berkaitan erat dengan tingkat kemampuan ekonomi) berpengaruh terhadap tingkat kebutuhan informasi. Orang yang berada pada lapisan masyarakat dengan tingkat kemampuan ekonomi tinggi, yang otomatis memiliki akses dan kekuasaan di bidang tertentu, maka ia akan membutuhkan informasi yang lebih mengenai hal-hal yang berguna untuk mempertahankan kekuasaan dan kepemilikannya tersebut.
3. Aspek Psikografis : Latar belakang budaya berpengaruh terhadap minat baca dan minat terhadap informasi. Latar belakang budaya juga berperan dalam pembentukan citarasa pembaca terhadap informasi.

Ketiga faktor di atas berperan serempak dalam pembentukan karakter seseorang. Dari sinilah dapat dikenali siapa sesungguhnya pembaca itu. Kecenderungan pembaca sangat memperngaruhi pilihan mereka pilihan mereka terhadap informasi yang dianggapnya penting atau menarik. Itulah sebabnya wartwan harus mengenali secara tajam siapa pembaca medianya. Pengenalan itu yang akan membantu wartwan dalam memutuskan peristiwa apa yang layak dijadikan berita.

Kriteria Layak Berita

Perbedaan karakteristik pembaca dan perbedaan politik keredaksian menyebabkan tidak semua peristiwa diberitakan oleh suatu media massa. Peristiwa yang diberitakan sangat tergantung pada siapa yang dipilih sebagai pembaca dan apa tujuan penyampaiannya.

Bagi wartawan pemula, pengenalan dan pemahaman tentang karakteristik pembaca bukan saja akan memfokuskan perhatiannya ketika menjalankan profesi kewartawanan, tapi juga mengarahkannya untuk memutuskan apa saja yang layak diberitakan.

Secara umum, kejadian yang memiliki nilai berita atau layak berita adalah yang yang mengandung beberapa unsure di bawah ini:

1. Significance (penting), yaitu kejadian yang berkemungkinan mempengaruhi kehidupan orang banyak.

2. Magnitude (besar), yaitu kejadian yang menyangkut angka-angka yang berarti bagi kehidupan orang banyak.

3. Proximity (kedekatan), yaitu kejadian yang dekat dengan pembaca (geografis atau emosional)

4. Timeliness (waktu), yaitu kejadian yang menyangkut hal-hal baru.

5. Prominence (tenar), yaitu yang menyangkut hal-hal ketenaran.

6. Human Interest (manusiawi), yaitu kejadian yang memberi sentuhan perasaan bagi pembaca.

II. Mengenali Realitas

Peristiwa sebagai suatu realitas sesungguhnya dibangun oleh sejumlah fajta. Fakta dari suatu realitas bisa berserakan tanpa meperlihatkan hubungan satu sama lain, baik hubungan dalam pengertian tempat, waktu, atau hubungan logis. Kondisi semacam ini tentu menyulitkan wartawan ketika terjun ke lapangan untuk mengumpulkan fakta. Dengan demikian, sebelum dapat diuji apakah suatu peristiwa sebagai suatu realitas memiliki unsur-unsur yang memnuhi kriteria layak berita, dibutuhkan pemahaman terhadap apa yang disebut sebagai realitas. Dari situlah baru dapat dilihat fakta apa saja yang terdapat di dalam realitas sebagai unsur yang membangunnya.

Wartawan harus memiliki kepekaan terhadap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Wartawan yang tidak memiliki kepekaan yang tidak memiliki kepekaan dan pengetahuan sosial akan melaporkan suatu kejadian dengan fakta yang sedanya dan berita yang ditulisnya pun seadanya. Wartawan harus memiliki bekal pengetahuan sosial dan berpikir kontekstual agar dapat membaca gejala sosial. Fakta-fakta yang dukumpulkan dari realitas yang terjadi itu, disusun menjadi suatu yang membentuk suatu gejala sosial yang berujung pada permasahan sosial.

III. Mengumpulkan Fakta

Suatu peristiwa terjadi tidak dengan sendirinya. Terdapat faktor-faktor yang menyebabkan peristiwa itu terjadi. Faktor itu dapat menjadi fakta yang dapat membuat suatu peristiwa terjadi. Fakta-fakta yang membangun suatu realitas tidak dengan sendirinya tersedia. Wartawan harus mencari dan mengumpulkannya dengan berbagai cara. Berdasarkan fakta yang dikumpulkan kemudian berita ditulis. Berita yang baik hanya dapat ditulis apabila didukung oleh fakta yang lengkap dan akurat. Pencarian dan pengumpulan fakta dapat dilakukan dengan observasi , wawancara, atau melakukan riset dokumentasi.

1. Observasi : observasi dipakai jika wartawan berada di tempat kejadian. Wartawan berada secara fisik di tempat kejadian dan mencatat kesan tentang kejadian itu. (mendeskripsikan fakta melalui indera).

2. Wawancara : bertanya kepada orang lain untuk memperoleh fakta atau latar belakang suatu masalah. Wawancara digunakan untuk mencari fakta yang tidak dapat dicari dengan observasi.

3. Riset Dokumentasi : dilakukan sebagai upaya untuk memperoleh fakta/ data yang berasal dari dokumentasi tertulis. Fakta yang dimaksud bisa berupa angka yang dituangkan dalam table, dapat berupa bagan, atau wacana yang tersimpan sebagai dokumen yang diarsip.

IV. Mengidentifikasi Fakta

Banyak fakta yanhg dapat dikumpulkan dari suatu kejadian, namun belum tentu semua fakta tersebut dapat dijadikan materi dasar untuk menulis berita. Nilai penting suatu fakti juga berbeda bagi setiap pembaca. Lalu, bagaimana wartawan secara mudah memilih fakta mana yang diperlukan dan mana yang tidak? Wartawan perlu menentukan lebih dulu, dari fakta yang diperoleh berdasar 5W+H, fakta mana yang paling penting atau paling menarik untuk diketahui pembaca. Ciri berita yang baik:

1. Faktual : peristiwa yang diberitakan memiliki fakta yang sungguh nyata, dapat diperiksa kebenarannya.

2. Aktual : peristiwa yang diberitakan mengandung fakta yang sungguh baru pada saat berita disiarkan, masih menjadi pembicaraan publik.

3. Akurat : peristiwa disajikan persis seperti apa adanya.

4. Unik : di luar kebiasaan.

5. Langka : jarang terjadi atau jarang ditemukan.

6. Dramatis : tindakan luar biasa.

7. Kontroversi : belum ada kesepakatan umum.

8. Konflik : terdapat perbedaan kepentingan.

V. Kritis Terhadap Fakta

Tugas wartawan adalah merekonstruksi suatu peristiwa. Oleh karena diperlukan sikap kritis agar fakta yang digunakan untuk membangun rekonstruksi berhasil menampilkan gambaran yang mendekati realitas sebenarnya. Tanpa sikap kritis ketika mencari atau mengumpulkan fakta, besar kemungkinan fakta yang diperoleh hanya fakta mentah tanpa makna.

Sikap kritis dapat tumbuh dengan terus menerus melatih kemampuan untuk melihat perbedaan atau persamaan lewat klasifikasi, analisis bagian, dan analisis proses.

1. Klasifikasi : suatu proses yang bersifat alamiah untuk menampilkan hasil atau objek penginderaan kita dalam kelompok-kelompok (kelas-kelas) tertentu. Klasifikasi ingin melihat objek-objek dalam suatu konteks logis, untuk melihat hubungan antara satu objek dengan objek lainnya.

2. Analisis Bagian : berusaha menentukan batas-batas unsur-unsur yang membentuk suatu objek.

3. Analisis Proses : disebut juga analisis tahap, sebagai bagian dari seluruh proses. Merupakan analisis yang dilakukan jika bagian-bagian yang dikemukakan dapat berubah, atau menggerakkan keseluruhan itu.

Penalaran Induktif

Salah satu kendala wartawan adalah sukar untuk menangkap secara tepat pola hubungan yang terjalin antara bebagai fakta/ aspek. Kendala itu dapat diatasi dengan penalaran induktif yang dapat ditafsirkan penalaran yang berawal dari yang khusus dan berakhir pada yang umum. Kesimpulan induktif selalu berupa generalisasi. Generalisasi ini harus dihindari wartawan dalam pekerjaan jurnalistik. Seorang wartawan hanya perlu menguraikan fakta. Meskipun menghadapi fakta yang sama, wartawan tidak perlu membuat generalisasi, melainkan merinci fakta tersebut dalam data konkret.

Yang ditegaskan di sini adalah bagaimana wartawan menggunakan penalaran induktifyang diperlukan untuk membuat kesimpulan yang sifatnya sementara. Akan tetapi kesimpulan ini tidak untuk ditulis di surat kabar. Penalaran induktif juga digunakan wartawan untuk menguji kebenaran pernyataan seseorang yang memberi kesaksian tentanhg suatu kejadian. Selain itu, penalaran induktif juga berguna untuk meramalkan fakta yang akan terjadi.

Penalaran Deduktif

Deduktif sering disebut penalaran dari yang umum ke khusus atau penerapan generalisasi pada peristiwa yang khusus untuk kesimpulan. penalaran deduksi namanya silogisme yang terdiri dari tiga bagian yaitu premis mayor, premis minor, dan kesimpulan. Penalaran deduktif berguna membantu wartawan yang menganilisis kualitas maupun sifat suatu fakta sebagai premis minor pada premis mayor yang benar.

Salah Nalar

Wartawan sering menghadapi persoalan salah nalar ini ketika mengumpulkan fakta di lapangan atau sewaktu mewawancarai seseorang untuk memperoleh kesaksian atau pendapat tentang suatu peristiwa. Salah nalar (fallacy) ialah gagasan, perkiraan, kepercayaan, atau kesimpulan yang keliru. Berikut ini dipaparkan sejumlah salah nalar:

1. Deduksi yang salah : kesimpulan yang salah dalam silogisme yang salah satu premisnya tidak memenuhi syarat. Kesimpulan yang salahakan mengarahkan wartawan mengumpulkan fakta yang salah. Akibatnya tulisan yang disusun pasti slah pula

2. Generalisasi yang terlalu luas : disebut juga induksi yang salah karena jumlah percontohannya tidak memadai.

3. Pemikiran “Atau ini” dan “Atau itu” : berpangkal pada keinginan untuk melihat masalah yang rumit dari dua sudut pandang saja.

4. Salah nilai atas penyebab : generalisasi induktif disusun berdasarkan pengamatan sebab dan akibat, tapi kita kadang tidak menilai sebab suatu peristiwa atau hasil dengan teliti.

5. Analogi yang salah : analogi adalah usaha perbandingan dan merupakan upaya yang berguna untuk mengembangkan perenggang. Akan tetapi analogi tidak membuktikan apa-apa dan analogi yang salah dapat mnyesatkan logika.

6. Penyampaian masalah : penilaian terhadap suatu masalah bisa mengandung salah nalar apabila dilatorbelakangi oleh suatu sikap penolakan terhadap pendapat lain namun tanpa didukung oleh argumentasi yang logis.

7. Pembenaran masalah lewat pokok sampingan : salah nalar muncul jika argumentasi menggunakan pokok-pokok pikiran yang tidak langsung atau hal yang remeh temeh untuk membenarkan pendiriannya.

8. Argumentasi Ad Hominem : terjadi jika kita dalam argumentasi melawan orangnya buka masalahnya.

9. Imbauan pada keahlian yang patut disangsikan : jika wartawan menemukan narasumber yang mengandalkan pihak lain untuk membenarkan pendapatnya sendiri.

10. Non sequitur : salah nalar ini mengambil kesimpulan berdasar premis yang tidak ada sangkut pautnya.

VI. Meliput Berita

Peristiwa dapat dibedakan atas sejumlah kategori. Kategori ini dibuat berdasarkan waktu terjadinya peristiwa dan juga proses yanhg mengikuti suatu peristiwa :

1. Berita berdasarkan peristiwa momentum : berita ini ditulis berdasarkan terjadinya suatu peristiwa yang timbul begitu saja tanpa diduga sebelumnya.

2. Berita berdasarkan peristiwa teragenda : ditulis berdasar peristiwa yang telah diketahui sebelumnya kapan peristiwa itu akan terjadi.

3. Berita lanjutan (follow up) : ditulis sebagai kelanjutan suatu berita yang telah disiarkan sebelumnya. Biasanya menyiarkan perkembangan terakhir dari suatu peristiwa.

Kendala Peliputan

1. Wartawan pemula sering gagal melihat peluangbahwa suatu peristiwa mungkin tidak cukup diberitakan sekali saja.

2. Adapula wartawan yang tidak dapat mengeksplorasi lebih dalam apa yang layak dan dapat ditulis dari peristiwa teragenda

Cantelan Berita (News peg)

Konsep news peg dapat membantu wartawamn untuk menggali dan mengembangkan ide sebelum ia dapat memastikan apa yang akan diliput. Cantelan berita dapat dirumuskan sebagai suatu kalimat atau alinea yang memperlihatkan kaitan masalah yang diungkapkan dalam tulisan terhadap suatu kejadian yang sedang aktual. Cantelan berita banyak digunakan saat menulis berita khas atau laporan mendalam.

Melokalisasi Berita

Diandaikan bahwa peristiwa yang terjadi di kota lain telah diberitakan oleh sejumlah media massa, sangat mungkin terjadi di kota yang berbeda.

Memutakhirkan Masalah

Cara ini disebut up-dating, yaitu memberitahukan perkembangan terbaru suatu peristiwa yang telah terjadi dan pernah diberitakan.

Perangkap Bidang Cetak

Bayangan bahwa redaktur hanya menyediakan kolom terbatas untuk memuat berita tertentu, tanpa disadari menumbuhkan keengganan wartawan untuk mengumpulkan fakta sebanyak-banyaknya dan menyusun laporan panjang.

VII. Dasar Bahasa Jurnalistik

Dalam perannya sebagai komunikator, penguasaan wartawan atas bahasa yang digunakan untuk menyampaikan suatu informasi sangat menentukan apakah informasi itu dapat dipahami pembaca. Karena itu diperlukan pengetahuan tata bahasa agar dapat menggunakan alat-alat perangkat bahasa lebih efektif. Tujuan utama mempelajari tata bahasa seyogyanya ialah untuk meningkatkan penggunaan alat-alat bahasa serta penguasaan bahasa.

Mahir Menggunakan Kata

Kemampuan memilih kata dan menuliskannya secara benar tergantung pada pemahaman terhadap konsep ejaan, pembentukan kata, dan juga penguasaan atas makna yang tepat.

Mencermati Ejaan

Masalah ejaan bukan merupakan tolak ukur menentukan tingkat kebudayaan, dalam hal ini kebudayaan tulis seseorang.

Menyiasati Pembentukan Kata

Dalam, penulisan, apakah kata dipakai dalam bentuk dasar atau dalam bentuk pengembangan bentuk dasar, sangat tergantung pada makna yang hendak digambarkan lewat kata tersebut. Bagi wartawan atau penulis, yang utama dalam hal penguasaan masalah pembentukan kata bukanlah untuk memahami maknanya seluas-luasnya. Menguasai cara pembentukan kata diperlukan untuk menulis ungkapan dengan makna yang tepat.

Pembentukan kata selalu dikaitkan dengan kata dasar, pengembangan bentuk dasar tersebut, maupun pemberian imbuhan. Baik kata dasar maupun imbuhan adalah morfem. Terdapat sejumlah proses pembentukan kata. Yang terpenting adalah proses morfologi, proses pembubuhan afiks, pengulangan kata, dan pengelompokkan kata.

Proses morfologi ialah ialah proses pembentukan kata dari bentuk lain yang merupakan bentuk dasarnya. Dalam bahasa Indonesia terdapt tiga proses morfologi ialah proses pembubuhan afiks, prosaes pengulangan, dan proses pemajemukan.

Proses pembubuhan afiks ialah pembubuhan afiks pada sesuatu bentuk, baik bentuk tunggal maupun bentuk kompleks untuk membentuk kata.

Jurnalistik selalu menuntut fakta disajikan secara terukur, meskipun bukan lewat ungkapan matematis. Bahasa memberi alat Bantu untuk mengatasi persoalan ini, yaitu dengan menggunakan kata ulang. Kata ulang dapat digunakan untuk mneggambarkan jumlah atau frekuensi yang berkaitan dengan suatu fakta.