Dinsdag, 21 Mei 2013

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA MAJAS

Macam-Macam Majas dan Contohnya - Majas adalah bahasa kias atau pengungkapan gaya bahasa yang dalam pemakaiannya bertujuan untuk memperoleh efek-efek tertentu agar tercipta sebuah kesan imajinatif bagi penyimak atau pendengarnya. Seorang penulis sastra juga terkadang terkenal dengan tulisan-tulisan majas dalam karyanya. Dalam hal ini seorang penulis sastra dalam menyampaikan pikiran dan perasan, baik secara lisan dan tertulis kerap menyampaikannya dengan bahasa majas yang khas.

Pada tulisan ini akan dipublikasikan maca-macam majas dan contohnya, juga turut akan dipublikasikan macam-macam majas dan pengertiannya yang tentunya akan menambah wawasan bagi bagi kita, seputar bahasa majas yang juga merupakan bagian karya sastra yang dipelajari dalam bidang studi Bahasa Indonesia.

Macam-Macam Majas dan Contohnya

Secara umum, majas terjadi dari 4 jenis yang masing-masing jenis majas tersebut juga memiliki sub bagian masing-masing. Berikut adalah jenis majas beserta contohnya dan juga sub-sub masing-masing dari ke-4 jenis majas tersebut.

A. Majas Sindiran
Majas Sindiran terdiri dari 3 sub bagian majas, berikut adalah penjelasanya dari masing-masing sub majas sindiran tersebut yang akan dipublikasikan beserta contohnya.

1. Majas Sarkasme 
Majas Sarkasme ialah majas sindiran yang terakasar langsung menusuk perasaan.
Contoh Majas Sarkasme: otakmu memang otak udang!

2. Majas Ironia 
Majas Ironia adalah majas sindiran yang melukiskan sesuatu dengan menyatakan sebalikanya dari yang sebenarnya dengan maksud untuk menyindir orang.
Contoh Majas Ironia: harum benar baumu sore ini!

3. Majas Sinisme 
Majas Sinisme  adalah gaya sindiran dengan mempergunakan kata-kata sebaliknya seperti ironi tetapi kasar.
Contoh Majas Sinisme: muntah aku melihat perangaimu yang tak pernah berubah!

B. Majas Perbandingan
Majas perbandingan terdiri dari 8 sub majas yang diantaranya dapat dilihat secara lengkap dibawah ini beserta contohnya masing-masing.

1. Majas Hiperbola
Majas hiperbola adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan mengganti peristiwa atau tindakan sesungguhnya dengan kata-kata yang lebih hebat pegertiannya untuk menyangatkan arti.
Contoh Majas Hiperbola: harga bensin membumbung tinggi-kakak membanting tulang demi menghidupi keluarganya.

2. Majas Metafora
Majas Metafora adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan perbandingan langsung dan tepat atas dasar sifat yang sama atau hampir sama.
Contoh Majas Metafora: dewi malam telah keluar dari balik awan (dewi malam = bulan)

3. Majas Simbolik
Majas simbolik adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan menggunakan benda-benda lain sebagi pebandingan. 
Contoh Majas Simbolik: ia adalah seorang lintah darat (lintah darat: pemeras, pemakan riba)

4. Majas Eufimisme
Majas Eufimisme adalah majas perbandingsn yang melukiskan sesuatu dengan kata-kata yang lebih lembut untuk meggantikan kata-kata lain untuk sopan santun atau tabu bahasa (pantang).
Contoh Majas Eufimisme: Para tunakarya perlu perhatin yang serius dari pemerintah-orang ini berubah akal

5. Majas Litotes
Majas Litotes  adalah majas perbandingan yang melukiskan kedaan dengan kata-kata yang belawanan artinya dengan kenyataan yang sebenarnya guna merendahkan diri.
Contoh Majas Litotes: perjuangan kami hanyalah setitik air dalam samudera luas.

6. Majas Alegori
Majas Alegori adalah majas perbandingan yang memperihatkan satu perbandingan utuh; perbandingan itu membentuk kesatuan yang menyeluruh.
Contoh Majas Alegori: hidup ini dierbandingkan dengan perahu yang tengah berlayar di lautan (suami:nahkoda istri:juru mudi gelombang:cobaan dalam kehidupan tanah seberang:cita-cita)

7. Majas Alegori Personifikasi
Majas Alegori Personifikasi  adalah majas yang melukiskan sesuatu dengan memberitakan sifat-sifat manusia kepada mempunyai sifat seperti manusia atau beda hidup.
Contoh Majas Alegori Personifikasi: angin berbisik menyampaikan salamku padanya

8. Majas Alusio
Majas Alusio adalah majas prbndingan dengan menggunakan ungkaan pribhasa yang artinya sudah diketahui umum.
Contoh Majas Alusio: ah dia itu tong kosong nyaring bunyinya

C. Majas Pertentangan
Majas pertentangan terdiri dari 4 sub jenis, yang diantaranya akan dijelaskan dibawah ini berikut beserta contoh-contohnya.

1. Majas Antitesis
Majas Antitesis adalah majas pertentangan yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan paduan kata yang berlawanan arti. 
Contoh Majas Antitesis: hidup matinya manusia ada ditangan tuhan

2. Majas Paradoks
Majas paradoks adalah majas pertentangan yang meukiskan sesuatu seolah-olah bertentangan, padahal sesungguhnya tidak karena objeknya bertentangan.
Contoh Majas Paradoks: hatinya sunyi tinggal di kota jakarta yang ramai.

3. Majas Kontradiksi Intermiris
Majas Kontradiksi Intermiris adalah majas pertentangan yang meperlibatkan pertentangan dengan penjelasan semula. 
Contoh Majas Kontradiksi Intermiris: semua murid kelas ini hadir, kecuali Hasan yang sedang ikut olympiade

4. Majas Okupasi
Majas Okupasi adalah majas pertetangan yang melukiskan sesuatu dengan bantahan, tetapi kemudian diberi penjelasan atau diakhiri dengan kesimpulan.
Contoh Majas Okupasi: merokok itu merusak kesehatan, tetapi si perokok tidak dapat menghentikan kebiasaannya. Maka muncullah pabrik-pabrik rokok karena untungnya banyak.

D. Majas Penegasan
Majas Penegasan terdiri dari 5 sub majas yang diantaranya dapat dilihat secara lengkap dibawah ini beserta contohnya masing-masing.

1. Majas Penegasan Retorik

Majas Penegasan adalah majas penegasan degan mempegunakan kalimat tanya yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban karena sudah diketahuinya.
Contoh Majas Penegasan: mana mungkin orang mati hidup kembali?

2. Majas Simetri
Majas Simetri adalah majas penegasan yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan 1 kata, kelompok kata atau kalimat yang diikuti oleh kata, kelompok kata atau kalimat yang seimbang artinya dengan yang pertama.
Contoh Majas Simetri: ayah diam serta tak suka berkata-kata

3. Majas Tautologi
Majas Tautologi adalah majas penegasan yang meukiskan sesuatu dangan mempergunakan kata-kata yang sama artinya (bersinonim) untuk mempertegas arti.
Contoh Majas Tautologi: saya khawatir dan was-was akan keselamatannya

4. Majas Retorik
Majas Retorik adalah majas penegasan degan mempegunakan kalimat tanya yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban karena sudah diketahuinya.
Contoh Majas Retorik: mana mungkin orang mati hidup kembali?

5. Majas Simetri
Majas Simetri ialah majas penegasan yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan 1 kata, kelompok kata atau kalimat yang diikuti oleh kata, kelompok kata atau kalimat yang seimbang artinya dengan yang pertama.
Contoh Majas Simetri: ayah diam serta tak suka berkata-kata

Demikianlah berbagai macam-macam majas beserta contohnya dan juga pengertiannya yang bisa dipublikasikan kepada teman-teman semuanya. Lihat juga tulisan terkait yang tidak kalah menarik di blog Berita Terhangat, yaitu tentang Contoh Sinonim. Semoga bermanfaat...

Vrydag, 26 April 2013

TEKNIK DASAR MEMBACA CEPAT BAHASA INDONESIA

TEKNIK DASAR MEMBACA CEPAT
Membaca cepat adalah keterampilan yang bermanfaat untuk dimiliki semua orang. Dalam posting sebelumnya, saya telah membahas hambatan dalam membaca cepat dan cara mengatasinya. Anda dapat membacanya di sini.
Jika Anda baru membaca tulisan ini, ada baiknya Anda membaca terlebih dulu tulisan sebelumnya untuk memberikan gambaran umum tentang membaca cepat pada posting Speed Reading – How Fast Can You Read?
Selanjutnya saya akan membahas dua teknik dasar dalam membaca cepat yakni:
  • Menangkap dan mengenali kata
  • Mempercepat gerakan mata
Mari kita bahas satu per satu. 

1. Menangkap dan mengenali kata

Dalam proses membaca, mata bertindak sebagai indra yang menangkap kata-kata dalam bahan bacaan. Kata-kata tersebut kemudian dikirim ke otak untuk dikenali sebagai sebuah kosa kata, kelompok kata, maupun pemahaman sebuah kalimat.
Ternyata otak manusia mampu memproses kata-kata dengan baik bahkan ketika urutannya dibolak-balik. Coba Anda simak teks berikut:
Kmaemuapn mbecmaa cpeat trkeiat eart dngean kmaemuapn mngelnaei ktaa. Mnuasia mngenelai breabgai ktaa lweat bkuu dan tlisaun ynag dbiacaayn. Ktaa-ktaa tbuesret dsimiapn dlaam mmorei oatk dan aakn dinalkei lbeih cpeat ktikea dtemuikan kmblaei pdaa baahn baacan ynag brau.
Libeh habet lgai tnyatera uturan ktaa tdiak tlaleru ptineng aslaakn psoisi hruuf preatma dan trekahir tdiak bruebah. Adna hnaya ckuup mngelnaei hruuf preatma dan trekahir tdai kmeduian dnegan kmemapaun laur baisa aakn mngeanilnya sbegaai sbeauh ktaa spereti ynag Adna bcaa skeranag. Ini mneuurt rsiet ynag prenah dlikaukan Uinvertisas Cmabrigde, Ingrigs.
Sekarang bandingkan dengan teks aslinya
Kemampuan membaca cepat terkait erat dengan kemampuan mengenali kata. Manusia mengenali berbagai kata lewat buku dan tulisan yang dibacanya. Kata-kata tersebut disimpan dalam memori otak dan akan dikenali lebih cepat ketika ditemukan kembali pada bahan bacaan yang baru.
Lebih hebat lagi ternyata urutan kata tidak terlalu penting asalkan posisi huruf pertama dan terakhir tidak berubah. Anda hanya cukup mengenali huruf pertama dan terakhir tadi kemudian dengan kemampuan luar biasa akan mengenalinya sebagai sebuah kata seperti yang Anda baca sekarang. Ini menurut riset yang pernah dilakukan Universitas Cambridge, Inggris.
Apa yang Anda rasakan ketika membaca kedua teks tadi? Kebanyakan orang tidak akan mengalami kesulitan berarti untuk membaca teks pertama. Mungkin kecepatannya akan lebih lambat karena teks tersebut dibolak-balik. Walaupun demikian teks tersebut masih cukup mudah dibaca dan dikenali sebagai kosa kata yang telah kita kenali sebelumnya.
Tulisan yang dibolak-balik tadi sekaligus menjadi bukti bahwa Anda mampu membacanya. Inilah prinsip yang akan kita gunakan dalam membaca cepat yakni mengenali kata demi kata dengan kecepatan tinggi sehingga Anda bisa terus berpindah ke kata berikutnya sambil membangun pemahaman dan konteks bahan bacaan.
Dalam membaca cepat kemampuan mengenali kata adalah dasar. Ketika Anda melihat sekumpulan huruf lewat mata dan mengirimkan ke otak, maka akan ada proses pengenalan terhadap kata-kata tersebut terlebih jika Anda pernah mengenal kosa kata tersebut sebelumnya. Itu mengapa orang yang rajin membaca memiliki kecepatan yang relatif lebih cepat dibandingkan orang yang jarang baca karena kekayaan kosa kata yang telah dimiliki sebelumnya. Dalam teknik membaca cepat, kita akan melatih kecepatan mengenali berbagai kosa kata tersebut.
Berikut latihan yang dapat Anda lakukan. Coba lihat tulisan pada kolom pertama (paling kiri) kemudian temukan kata yang sama pada 4 kolom berikutnya. Lakukan proses ini dengan cepat dan sekali lirik. Semakin cepat dan akurat Anda mengenalinya berarti semakin cepat pula kemampuan asosiasi Anda terhadap kata-kata tersebut.

1. Latihan mengenali kata

latihan_kata
Lakukan latihan tersebut dengan cepat. Rasakan mata Anda berpindah cepat dari kolom acuan ke kolom yang harus ditemukan.

2. Latihan mengenali kelompok kata

Latihan kedua adalah mengenali kelompok kata (frasa). Anda telah mengenal kata-kata ini sebelumnya. Sama seperti latihan sebelumnya lakukan dengan cepat untuk menemukan frasa yang sama pada kolom pertama di ketiga kolom lainnya.
latihan_frasa
Latihlah kedua hal di atas sampai Anda dapat mengenali dengan cepat sebuah kata dan kelompok kata (frasa). Dengan demikian, ketika proses membaca cepat dilakukan, pengenalan kata tidak tertinggal. Ibarat seorang pembalap, meskipun berkendara dengan kecepatan tinggi, Anda tetap awas atas apa-apa yang ada di depan, kiri dan kanan.
Kedua latihan di atas dapat Anda download dalam versi PDF di latihan-mengenali-kata-dan-frasa

2. Latihan Mempercepat Gerakan Mata

Setelah Anda melatih kecepatan mengenali kata dengan akurat, sekarang kita akan mulai berlatih mempercepat gerakan mata. Dalam proses membaca seseorang melakukannya dengan menangkap kata per kata atau bahkan suku kata per suku kata.
Perhatikan contoh berikut. Inilah yang biasanya dilakukan banyak orang ketika membaca.
fiksasi-1b
Tidak hanya itu kadangkala proses membaca bisa menjadi jauh lebih lambat jika ada proses mengeja per suku kata. Ini yang biasanya dilakukan ketika seorang anak mulai belajar membaca.
fiksasi-3
Dalam membaca cepat kita akan melatih menangkap dua, tiga, empat atau bahkan lima kata sekaligus sehingga mempercepat proses pembacaan.
fiksasi-2b
Ini adalah yang saya lakukan ketika berlatih membaca cepat sekitar tahun 1997 dulu. Caranya adalah dengan membuat garis lurus vertikal di buku atau bahan bacaan. Dengan demikian, keseluruhan teks akan terbagi menjadi beberapa bagian. Cara ini baik dipakai untuk melatih membiasakan mata melihat sekelompok kata sekaligus.
Perhatikan contoh tulisan berikut yang diberi garis putus-putus sehingga membaginya menjadi empat kelompok. Untuk tulisan lengkap dapat Anda download di sini dalam format PDF.
tulisan_4_fiksasi
Sumber: Republika, Rabu, 28 April 2004
Penulis: Yuswohady, Chief of Corporate & Strategy Practice MarkPlus&Co
Cara membacanya adalah paksakan mata Anda mengikuti kelompok yang dibuat oleh garis tadi. Dengan demikian, ketika pada baris pertama, Anda akan membaca kata “fenomena pria” sekaligus pada kolom pertama, kata “metroseksual yang kini” pada kolom kedua, kata “melanda seluruh dunia” pada kolom ketiga, dan kata “termasuk di kota-kota” pada kolom keempat. Lakukan hal yang sama pada baris-baris berikutnya.
Dengan cara ini, Anda akan memaksa mata melihat kelompok kata sesuai lebar garis yang Anda tentukan. Lakukan pergerakan tersebut dengan berirama sampai Anda terbiasa dengan pola 4 kali melihat dalam satu baris. Selanjutnya jika Anda sudah merasa mantap, jangkauan bisa diperlebar dengan melihat 3 kali dalam satu baris. Lakukan terus menerus sampai Anda dapat membaca dengan pola seperti itu tanpa perlu dibantu garis.
Sampai nantinya Anda bisa melakukannya dalam 2 kali lihat per baris atau bahkan beberapa orang bisa membacanya cukup 1 kali lihat perbaris. Cukup menantang bukan?
Contoh berikut ini mirip seperti tadi, bedanya tulisan dibagi dalam tiga kelompok saja. Artinya Anda harus mampu menangkap lebih banyak kata sekaligus dalam setiap kali pergerakan mata. Untuk tulisan lengkap dapat Anda download di sini dalam format PDF.
tulisan_3_fiksasi
Sumber: Republika, Rabu, 23 April 2003
Penulis: Mamang Pratidina
Semakin Anda konsisten melakukan latihan tersebut, maka secara bertahap Anda juga telah melatih otot-otot mata untuk bergerak dengan cepat dan teratur. Hal ini secara perlahan akan meningkatkan kecepatan baca sampai Anda menemukan kecepatan yang dirasakan pas.
Dalam kesempatan berikutnya, saya akan menjelaskan cara-cara melatih pergerakan mata ini agar bergerak lebih cepat, teratur dan berima. Dengan demikian proses pembacaan cepat akan menjadi lebih alami dengan tingkat pemahaman yang tinggi.
Selamat berlatih menjadi pembaca cepat. Anda punya pengalaman atau pendapat tentang hal ini? Silakan berbagi pengalaman.
File Latihan:
UPDATE:
Ada dua video seri Membaca Cepat yang terkait dengan tulisan ini yakni:
Video 7 – Teknik Membaca Cepat: Membaca Beberapa Kata Sekaligus
Video 8 – Teknik Membaca Cepat: Bagaimana Mempercepat Gerakan Mata

Artikel Menarik Lainnya:

M

PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA TENTANG KALIMAT TANA

PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA TENTANG KALIMAT TANYA
Kalimat Tanya

Kalimat tanya ialah kalimat yang dipergunakan dengan tujuan
memperoleh reaksi berupa jawaban dari yang ditanya atau penguatan
sesuatu yang telah diketahui oleh penanya. Kalimat tanya diucapkan
dengan intonasi menaik pada suku kata akhir. Dalam bentuk tulis ditandai
dengan tanda tanya (?).
Kalimat tanya dicirikan oleh empat hal, yaitu sebagai berikut.
1. Penggunaan kata tanya: apa, siapa, di mana, bagaimana, mengapa,
dan lain-lain.
Contoh :
- Bagaimana kondisi pengungsi lumpur Lapindo saat ini?
- Apa Anda sudah berpengalaman di bidang mesin?
2. Penggunaan kata bukan atau tidak
Contoh :
- Bukankah ini tas yang kamu bawa?
- Ini hasil ulanganmu, bukan?
- Tidakkah dia merasa aneh dengan sikapmu?
3. Penggunaan klitika -kah pada predikat kalimat yang diubah susunannya SP PS
Contoh :
1.a. Ia lulus tahun ini.
1.b. Luluskah ia tahun ini?
2.a. Ia sudah pulang?
2.b. Sudah pulangkah ia?
4. Penggunaan intonasi naik pada suku kata akhir
Contoh :
- Ayahnya terlibat perampokan .
- Ayahnya terlibat perampokan?
- Dia pergi ke luar negeri.
- Dia pergi ke luar negeri ?

Donderdag, 25 April 2013

FONOLOGI DAN MORFOLOGI


FONOLOGI DAN MORFOLOGI
A. FONOLOGI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) dinyatakan bahwa fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi – bunyi bahasa menurut fungsinya. Dengan demikian fonologi adalah merupakan sistem bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatakan bahwa fonologi adalah ilmu tentang bunyi bahasa.
Fonologi dalam tataran ilmu bahasa dibagi dua bagian, yakni:
1. Fonetik
Fonetik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi – bunyi bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia, serta bagaimana bunyi itu dihasilkan.
Macam –macam fonetik :
a. fonetik artikulatoris yang mempelajari posisi dan gerakan bibir, lidah dan organ-organ manusia lainnya yang memproduksi suara atau bunyi bahasa
b. fonetik akustik yang mempelajari gelombang suara dan bagaimana mereka didengarkan oleh telinga manusia
c. fonetik auditori yang mempelajari persepsi bunyi dan terutama bagaimana otak mengolah data yang masuk sebagai suara

2. Fonemik
Fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi – bunyi bahasa yang berfungsi sebagai pembeda makna.
Jika dalam fonetik kita mempelajari segala macam bunyi yang dapat dihasilkan oleh alat-alat ucap serta bagaimana tiap-tiap bunyi itu dilaksanakan, maka dalam fonemik kita mempelajari dan menyelidiki kemungkinan-kemungkinan, bunyi-ujaran yang manakah yang dapat mempunyai fungsi untuk membedakan arti.




B. FONEM
Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan memiliki fungsi untuk membedakan makna. Fonem tidak dapat berdiri sendiri karena belum mengandung arti.
Fonemisasi adalah usaha untuk menemukan bunyi-bunyi yang berfungsi dalam rangka pembedaan makna tersebut.
Fonem sebuah istilah linguistik dan merupakan satuan terkecil dalam sebuah bahasa yang masih bisa menunjukkan perbedaan makna. Fonem berbentuk bunyi.Misalkan dalam bahasa Indonesia bunyi [k] dan [g] merupakan dua fonem yang berbeda, misalkan dalam kata "cagar" dan "cakar". Tetapi dalam bahasa Arab hal ini tidaklah begitu. Dalam bahasa Arab hanya ada fonem /k/.
Sebaliknya dalam bahasa Indonesia bunyi [f], [v] dan [p] pada dasarnya bukanlah tiga fonem yang berbeda. Kata provinsi apabila dilafazkan sebagai [propinsi], [profinsi] atau [provinsi] tetap sama saja.
Fonem tidak memiliki makna, tapi peranannya dalam bahasa sangat penting karena fonem dapat membedakan makna. Misalnya saja fonem [l] dengan [r]. Jika kedua fonem tersebut berdiri sendiri, pastilah kita tidak akan menangkap makna. Akan tetapi lain halnya jika kedua fonem tersebut kita gabungkan dengan fonem lainnya seperti [m], [a], dan [h], maka fonem [l] dan [r] bisa membentuk makna /marah/ dan /malah/. Bagi orang Jepang kata marah dan malah mungkin mereka anggap sama karena dalam bahasa mereka tidak ada fonem [l].
Terjadinya perbedaan makna hanya karena pemakaian fonem /b/ dan /p/ pada kata tersebut. Contoh lain: mari, lari, dari, tari, sari, jika satu unsur diganti dengan unsur lain maka akan membawa akibat yang besar yakni perubahan arti.





MORFOLOGI
Adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal
Morfologi mempelajari seluk beluk bentuk serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik
Jenis-jenis Morfem
Berdasarkan criteria tertentu, kita dapat mengklasifikasikan morfem menjadi berjenis-jenis. Penjenisan ini dapat ditinjau dari dua segi yakni hubungannya dan distribusinya (Samsuri, 1982:186; Prawirasumantri, 1985:139). Agar lebih jelas, berikut ini sariannya.

1) Ditinjau dari Hubungannya
Pengklasifikasian morfem dari segi hubungannya, masih dapat kita lihat dari hubungan struktural dan hubungan posisi.

a) Ditinjau dari Hubungan Struktur
Menurut hubungan strukturnya, morfem dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu morfem bersifat aditif (tambahan) yang bersifat replasif (penggantian), dan yang bersifat substraktif (pengurangan).
Morfem yang bersifat aditif yaitu morfem-morfem yang biasa yang pada umumnya terdapat pada semua bahasa, seperti pada urutan putra, tunggal, -nya, sakit. Unsur-unsur morfem tersebut tidak lain penambahan yang satu dengan yang lain.
Morfem yang bersifat replasif yaitu morfem-morfem berubah bentuk atau berganti bentuk dari morfem asalnya. Perubahan bentuk itu mungkin disebabkan oleh perubahan waktu atau perubahan jumlah. Contoh morfem replasif ini terdapat dalam bahasa Inggris. Untuk menyatakan jamak, biasanya dipergunakan banyak alomorf. Bentuk-bentuk /fiyt/, /mays/, /mεn/ masing-masing merupakan dua morfem /f…t/, /m…s/, /m…n/ dan /iy ← u/, /ay ← aw/, /ε/, /æ/. Bentuk-bentuk yang pertama dapat diartikan masing-masing ‘kaki’, ‘tikus’, dan ‘orang’, sedangkan bentuk-bentuk yang kedua merupakan alomorf-alomorf jamak. Bentuk-bentuk yang kedua inilah yang merupakan morfem-morfem atau lebih tepatnya alomorf-alomorf yang bersifat penggantian itu, karena /u/ diganti oleh /iy/ pada kata foot dan feet, /aw/ diganti oleh /ay/ pada kata mouse dan mice, dan /æ/ diganti oleh / ε/ pada kata man dan men.
Morfem bersifat substraktif, misalnya terdapat dalam bahasa Perancis. Dalam bahasa ini, terdapat bentuk ajektif yang dikenakan pada bentuk betina dan jantan secara ketatabahasaan. Perhatikanlah bentuk-bentuk berikut !
Betina
/mov εs/
/fos/
/bon/
/sod/
/ptit/ Jantan
/mov ε/
/fo/
/bo/
/so/
/pti/ Arti
buruk
palsu
baik
panas
kecil
Bentuk-bentuk yang ‘bersifat jantan’ adalah ‘bentuk betina’ yang dikurangi konsonan akhir. Jadi dapat dikatakan bahwa pengurangan konsonan akhir itu merupakan morfem jantan.
b) Ditinjau dari Hubungan Posisi
Dilihat dari hubungan posisinya, morfem pun dapat dibagi menjadi tiga macam yakni ; morfem yang bersifat urutan, sisipan, dan simultan. Tiga jenis morfem ini akan jelas bila diterangkan dengan memakai morfem-morfem imbuhan dan morfem lainnya.
Contoh morfem yang bersifat urutan terdapat pada kata berpakaian yaitu / ber-/+/-an/. Ketiga morfem itu bersifat berurutan yakni yang satu terdapat sesudah yang lainnya.
Contoh morfem yang bersifat sisipan dapat dilihat dari kata / telunjuk/. Bentuk tunjuk merupakan bentuk kata bahasa Indonesia di samping telunjuk. Kalau diuraikan maka akan menjadi / t…unjuk/+/-e1-/.
Morfem simultan atau disebut pula morfem tidak langsung terdapat pada kata-kata seperti /k∂hujanan/. /k∂siaηgan/ dan sebagainya. Bentuk /k∂hujanan/ terdiri dari /k∂…an/ dan /hujan/, sedang /kesiangan/ terdiri dari /ke…an/ dan /siaη/. Bentuk /k∂-an/ dalam bahasa Indonesia merupakan morfem simultan, terbukti karena bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk /k∂hujan/ atau /hujanan/ maupun /k∂siaη/ atau /sianaη/. Morfem simultan itu sering disebut morfem kontinu ( discontinous morpheme ).

2) Ditinjau dari Distribusinya
Ditinjau dari distribusinya, morem dapat dibagi menjadi dua macam yaitu morfem bebas dan morem ikat. Morfem bebas ialah morfem yang dapat berdiri dalam tuturan biasa , atau morfem yang dapat berfungsi sebagai kata, misalnya : bunga, cinta, sawah, kerbau. Morfem ikat yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, misalnya : di-, ke-, -i, se-, ke-an. Disamping itu ada bentuk lain seperti juang, gurau, yang selalu disertai oleh salah satu imbuhan baru dapat digunakan dalam komunikasi yang wajar. Samsuri ( 1982:188 )menamakan bentuk-bentuk seperti bunga, cinta, sawah, dan kerbau dengan istilah akar; bentuk-bentukseperti di-,ke-, -i, se-, ke-an dengan nama afiks atau imbuhan; dan juang, gurau dengan istilah pokok. Sementara itu Verhaar (1984:53)berturut-turut dengan istilah dasar afiks atau imbuhan dan akar. Selain itu ada satu bentuk lagi seperti belia, renta, siur yang masing-masing hanya mau melekat pada bentuk muda, tua, dan simpang, tidak bisa dilekatkan pada bentuk lain. Bentuk seperti itu dinamakan morfem unik.

SINTAKSIS
Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang berarti “dengan” dan kata tattein yang berarti “menempatkan”. Jadi, secara etimologi berarti: menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat.
STRUKTUR SINTAKSIS
Secara umum struktur sintaksis terdiri dari susunan subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan (K) yang berkenaan dengan fungsi sintaksis. Nomina, verba, ajektifa, dan numeralia berkenaan dengan kategori sintaksis. Sedangkan pelaku, penderita, dan penerima berkenaan dengan peran sintaksis.
Eksistensi struktur sintaksis terkecil ditopang oleh urutan kata, bentuk kata, dan intonasi; bisa juga ditambah dengan konektor yang biasanya disebut konjungsi. Peran ketiga alat sintaksis itu tidak sama antara bahasa yang satu dengan yang lain.

KATA SEBAGAI SATUAN SINTAKSIS
Sebagai satuan terkecil dalam sintaksis, kata berperan sebagai pengisi fungsi sintaksis, penanda kategori sintaksis, dan perangkai dalam penyatuan satuan-satuan atau bagian-bagian dari satuan sintaksis.
Kata sebagai pengisi satuan sintaksis, harus dibedakan adanya dua macam kata yaitu kata penuh dan kata tugas. Kata penuh adalah kata yang secara leksikal mempunyai makna, mempunyai kemungkinan untuk mengalami proses morfologi, merupakan kelas terbuka, dan dapat berdiri sendiri sebagai sebuah satuan. Yang termasuk kata penuh adalah kata-kata kategori nomina, verba, adjektiva, adverbia, dan numeralia.
Kata tugas adalah kata yang secara leksikal tidak mempunyai makna, tidak mengalami proses morfologi, merupakan kelas tertutup, dan di dalam peraturan dia tidak dapat berdiri sendiri. Yang termasuk kata tugas adalah kata-kata kategori preposisi dan konjungsi



FRASE

Frase lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif (hubungan antara kedua unsur yang membentuk frase tidak berstruktur subjek - predikat atau predikat - objek), atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat.

KLAUSA

Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif. Artinya, di dalam konstruksi itu ada komponen, berupa kata atau frase, yang berungsi sebagai predikat; dan yang lain berfungsi sebagai subjek, objek, dan keterangan

KALIMAT

Dengan mengaitkan peran kalimat sebagai alat interaksi dan kelengkapan pesan atau isi yang akan disampaikan, kalimat didefinisikan sebagai “ Susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap ”. Sedangkan dalam kaitannya dengan satuan-satuan sintaksis yang lebih kecil (kata, frase, dan klausa) bahwa kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan, serta disertai dengan intonasi final.

PENGERTIAN SURAT DAN JENISNA

PENGERTIAN SURAT DAN JENISNA
A. Pengertian Surat
Dalam berkomunikasi, manusia saling memberikan informasi. Pemberian informasi oleh manusia dilakukan dengan dua cara, yaitu secara lisan maupun tulisan. Informasi secara lisan terjadi jika si pemberi informasi saling berhadapan baik langsung maupun tidak langsung. Proses komunikasi tersebut dapat dilakukan dengan cara berbicara melalui telepon, radio, televisi, dan sebagainya. Namun jika tidak dapat berhadapan komunikasi dapat dilakukan melalui surat. Surat adalah salah satu sarana komunikasi tertulis untuk menyampaikan informasi dari satu pihak (orang, instansi, atau organisasi) kepada pihak lain (orang, instansi, atau organisasi). B. Format Surat Sebagai sarana tertulis, surat memiliki format penulisan, terutama surat resmi atau dinas. Dengan adanya format surat, penulisan surat menjadi teratur, bagian-bagian surat tidak ditulis sembarang melainkan ditempatkan sesuai ketentuan. Bentuk penulisan surat atau format surat yang lazim dipergunakan ada 5 bentuk, yaitu : (1) bentuk lurus penuh (full block style) (2) bentuk lurus (block style) (3) bentuk setengah lurus (semiblock style) (4) bentuk lekuk (indented style) (5) bentuk paragraf menggantung (hanging paragraph) Bentuk setengah lurus atau semiblock style terdapat dua jenis, yaitu bentuk Indonesia lama (versi a) dan bentuk Indonesia baru (versi b). Berdasarkan pengamatan dalam pemakaian bentuk surat, surat-surat resmi Indonesia lama banyak menggunakan format versi a, sedangkan surat-surat resmi Indonesia baru menggunakan format versi b. Dalam kaitan dengan format surat, Pusat Bahasa dalam kegiatan surat-menyurat sehari-hari melazimkan format setengah lurus versi b. Dan, Pusat Bahasa menganjurkan kepada masyarakat, melalui penyuluhan bahasa Indonesia di berbagai instansi, penyuluhan bahasa Indonesia melalui telepon atau melalui surat, untuk menggunakan format setengah lurus b karena ini dianggap lebih efisien dan lebih menarik. Berikut ini contoh-contoh format surat yang dimaksud di atas.
Gambar 1. Format Lurus Penuh (Full block style)
Gambar 2. Format Lurus (Block style)
Gambar 3 Format Setengah Lurus versi a (Indonesia lama)
Gambar 4. Format Setengah Lurus versi b (Indonesia baru)
Gambar 5. Format Lekuk(Indented Style)
Gambar 6. Format Paragraf Menggantung (Hanging Paragraph Style) C. Jenis-Jenis Surat Berdasarkan pemakaiannya surat dibagi atas tiga jenis, berikut. 1. Surat Pribadi Surat pribadi adalah surat yang dipergunakan untuk kepentingan pribadi. Isi surat berhubungan dengan urusan pribadi. Contohnya surat seorang anak kepada orang tuanya atau surat kepada teman. Ciri-ciri surat pribadi seperti berikut. (1) Tidak menggunakan kop surat/kepala surat (2) Tidak menggunakan nomor surat (3) Salam pembuka dan penutup surat bervariasi (4) Penggunaan bahasa bebas, sesuai dengan keinginan si penulis surat. (5) Format surat bebas 2. Surat Resmi Surat resmi ialah surat yang dipergunakan untuk kepentingan yang bersifat resmi, baik yang ditulis dari perseorangan, instansi, lembaga, maupun organisasi. Contohnya: surat undangan, surat pemberitahuan, dan surat edaran. Ciri-ciri surat resmi, seperti berikut. (1) Menggunakan kepala surat jika yang mengeluarkannya adalah lembaga atau organisasi (2) Menggunakan nomor surat, lampiran, dan perihal (3) Menggunakan salam pembuka dan penutup yang lazim atau resmi, seperti: Assalamualikum, dengan hormat, hormat kami (4) Menggunakan bahasa dengan ragam resmi atau baku (5) Menggunakan cap/stempel jika berasal dari sebuah organisasi atau lembaga resmi (6) Penulisan surat mengikuti format surat tertentu (tidak bebas) 3. Surat Dinas Surat dinas ialah surat yang dipergunakan untuk kepentingan pekerjaan, tugas dari kantor, atau kegiatan dinas. Surat ini berasal dari instansi atau lembaga baik swasta maupun negeri. Contoh: surat tugas, surat perintah, memorandum, dan surat keputusan. Surat dinas yang berifat perseorangan ialah surat lamaran pekerjaan, surat permohonan izin, dan surat permohonan cuti. Ciri-ciri surat dinas, seperti berikut. (1) Menggunakan kop/kepala surat dan instansi atau lembaga yang bersangkutan (2) Menggunakan nomor surat, lampiran, dan perihal (3) Menggunakan salam pembuka dan penutup yang baku atau resmi, seperti : dengan hormat, hormat kami (4) Menggunakan bahasa baku atau ragam resmi (5) Menggunakan cap/stempel instansi atau kantor pembuat surat (6) Format surat tertentu. Jika berasal dari instansi pemerintahan lazimnya menggunakan format surat resmi Indonesia baru atau format setengah lurus versi b. Penggunaan Bahasa dalam Surat Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas bahwa penggunaan bahasa di dalam surat bergantung pada jenis pemakaian surat dan tujuan surat. Untuk surat pribadi, penggunaan bahasa bersifat subjektif, bergantung pada keinginan si penulisnya dan kepada siapa surat ditujukan. Menulis surat untuk orang tua tentu akan menggunakan bahasa lebih formal dan santun, berbeda dengan menulis surat untuk teman atau sahabat. Begitu pula dengan surat pribadi yang bersifat resmi seperti surat lamaran pekerjaan, surat permohonan izin, dan cuti. Meskipun bersifat pribadi, tapi karena ditujukan kepada sebuah instansi atau perusahaan tentu penulis harus menggunakan bahasa yang resmi dan formal. Lain halnya dengan surat resmi dan surat dinas, penggunaan bahasa cenderung menggunakan kosakata baku dan struktur kalimat yang lengkap. Hal ini disebabkan karena surat resmi dan surat dinas dipergunakan untuk tujuan atau fungsi-fungsi yang bersifat resmi atau kedinasan. Berikut contoh surat pribadi, resmi, dan dinas. Contoh surat pribadi: Bandung, 1 Juni 2007 Menjumpai Kakakku Wisnu Di Jakarta Assalamu’alaikum wr.wb. Apa kabar, Kak? Sehat-sehat saja, kan? Maaf ya, Kak baru kali ini Rina baru bisa kirim kabar. Harap maklum, karena Rina sibuk belajar untuk menghadapi ujian akhir semester. Oh iya, bagaimana keadaan Kakak sekarang, mudah-mudahan selalu sehat juga baik-baik saja dan pekerjaan Kakak berjalan dengan lancar. Ibu dan Bapak alhamdulillah kabarnya baik-baik saja. Mereka kirim salam buat Kakak dan mereka pesan supaya Kakak jaga kondisi tubuh dengan baik dan jangan lupa beribadah yang paling utama. Kak, Bapak dan Ibu sekarang aktif lho berolahraga. Mereka setiap pagi rajin jalan pagi, malah sekarang mereka ikut senam jantung sehat yang diadakan di lapangan RW kita. Kak, sebentar lagi, kan bulan Ramadhan. Kakak pulang ke Bandung atau tidak? Supaya kita bisa berkumpul kembali sama-sama berpuasa dan buka puasa bareng-bareng. Oh iya, Kak, kalau Kakak memang nggak bisa datang di bulan Ramadhan nanti, Rina harap kakak usahakan datang sebelum hari raya Idul Fitri, ya. Kalau Kakak mau pulang ke Bandung, tolong sebelumnya kasih kabar dulu, ya. Supaya kita bisa jemput di stasiun. Kak, udahan dulu, ya. Kita di sini selalu berdoa kepada Allah supaya Kakak selalu diberikan kesehatan, kemudahan dalam pekerjaan, dan sukses selalu. Cukup sekian dulu, Kak, lain waktu disambung lagi. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Adikmu, Ttd. Rina Wati Contoh Surat Resmi Pemberitahuan: D. Surat Lamaran Pekerjaan Surat lamaran pekerjaan dapat ditulis tangan atau diketik. Adakalanya suatu perusahaan atau instansi tertentu mensyaratkan secara khusus agar surat lamaran yang dikirimkan pelamar ditulis tangan atau diketik. Kalaupun surat lamaran pekerjaan akan ditulis tangan, tulisan tersebut hendaknya jelas, mudah dibaca, dan rapi. Surat yang ditulis seperti itu akan memudahkan orang yang membacanya. Bagian surat lamaran pekerjaan sebagai berikut. 1. Tempat dan tanggal penulisan surat 2. Perihal 3. Alamat surat 4. Salam pembuka 5. Pembuka surat 6. Tujuan surat lamaran pekerjaan 7. Identitas pelamar 8. Penutup surat 9. Tanda tangan dan nama jelas pelamar Penulis surat lamaran surat lamaran hendaknya mematuhi ramburambu berikut ini. 1. Jika ditulis tangan, tulislah sendiri di atas kertas bergaris dengan menggunakan kertas berkualitas baik. 2. Jika diketik, gunakan kertas HVS dengan jarak pengetikan 1 spasi. 3. Bersih, tidak boleh ada coretan, bekas hapusan, tip ex, dan koreksian. 4. Sifatnya optimistis, artinya si pelamar akan mampu bekerja dengan baik. 5. Sapaan yang digunakan dalam surat lamaran, yaitu “ibu” atau “bapak”, dan tidak disarankan menyapa dengan kata”Saudara”/”Anda”. Selain itu, bahasa surat lamaran pekerjaan harus memenuhi aturan sebagai berikut. (1) Bahasa yang digunakan sopan dan simpatik. (2) Kalimat yang digunakan efektif dan komunikatif. (3) Menggunakan bahasa yang baku dan ejaan yang tepat. Surat lamaran pekerjaan dapat dibuat setelah calon pelamar mendapat informasi adanya lowongan pekerjaan di perusahaan atau instansi tertentu. Informasi itu dapat diperoleh, baik melalui media massa atau media audio visual. Selain itu, ada juga surat lamaran pekerjaan yang dibuat atas inisiatif dari calon pelamar sendiri. Contoh surat lamaran pekerjaan yang umum: Perihal : Lamaran pekerjaan Jakarta, 20 Mei 2007 Yth. Pimpinan PT Wahana Karya Jalan Pemuda I no. 10 Jakarta Dengan hormat, Berdasarkan pengumuman yang dimuat pada harian umum Merdeka, tanggal 16 Mei 2007, dengan ini saya berminat untuk mengajukan diri menjadi staf bagian Marketing di PT Wahana Karya yang Bapak/Ibu pimpin. Data diri saya sebagai berikut. Nama : Sinta Nur Ramadhani Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 8 September 1982 Pendidikan terakhir : Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta Alamat : Jalan Lembah Griya Indah No. 10, Depok Sebagai bahan pertimbangan, bersama ini saya lampirkan : 1. satu lembar daftar riwayat hidup 2. satu lembar fotokopi ijazah terakhir 3. satu lembar transkrip nilai 4. tiga lembar fotokopi sertifikat pendidikan komputer dan bahasa Inggris 5. satu lembar fotokopi KTP 6. dua lembar pasfoto ukuran 4 x 6 cm 7. satu lembar surat pengalaman kerja. Demikian surat lamaran ini saya sampaikan dengan harapan mendapat perhatian dari Bapak/Ibu. Atas perhatian Bapak/Ibu, saya mengucapkan terima kasih. Hormat saya, Ttd. Sinta Nur Ramadhani Contoh: Surat lamaran model gabungan dengan daftar riwayat hidup: Hal : Lamaran Pekerjaan Jakarta, 20 mei 2006 Yth. Pemasang Iklan PO Box 4853 Jakarta 11048 Dengan hormat, Setelah membaca iklan perusahaan Bapak/Ibu yang dimuat di harian sore Suara Pembaruan, 18 Mei 2006, dengan ini saya mengajukan permohonan sebagai staf Akunting. Adapun keterangan mengenai diri saya adalah sebagai berikut. Nama : Ellis Fitriani Tempat/tanggal lahir : Semarang, 10 Agustus 197 Alamat : Jalan Kroya, No. 50 Jakarta Pendidikan : Tahun 1989, tamat SMP Negeri 10 Jakarta, tahun 1992, tamat SMA Negeri 58 Jakarta, tahun 1996, tamat Akademi Perbankan Nasional Jakarta. Pengalaman Kerja : Tenaga Pembukuan pada CV CENTRAL ASIA Semarang selama 2 tahun, Staf Akuntansi PT Citra Jakarta selama 3 tahun Hobi : Membaca Referensi : Drs. Suparman Kepala Bagian Personalia CV CENTRAL ASIA Semarang, tlp (024) 332115 / Wijaya Akt. Akuntan PT Citra Jakarta tlp (021) 551223 Selain itu, saya dapat mengoperasikan komputer Microsoft Word, Excel, Access, dan mampu berbahasa inggris lisan dan tulisan. Untuk melengkapi surat lamaran ini, saya lampirkan pula syarat-syarat yang diperlukan. Atas kebijakan Bapak, saya ucapkan terima kasih. Hormat Saya Ttd Ellis Fitriani Lampiran : 1. Fotokopi ijazah Akademi Perbanas 2. Fotokopi sertifikat kursus komputer 3. Fotokopi sertifikat kursus bahasa Inggris 4. Surat pengalaman kerja 5. Surat keterangan sehat 6. Pasfoto ukuran 4 x 6 (2 lembar) E. Surat Undangan Undangan berasal dari kata dasar “undang” dan akhiran “an”. Undang berarti panggil. Mengundang berarti memanggil atau mempersilakan datang. Undangan adalah kata benda yang berarti orang yang dipanggil atau dipersilakan datang untuk hadir pada waktu, hari, tanggal, tempat yang sudah ditetapkan dalam undangan. Surat undangan merupakan suatu penghormatan kepada orang yang diundang. Bentuk dan susunan surat undangan hendaknya disusun semenarik mungkin, jelas isinya dan dikirimkan tepat waktu agar yang diundang dapat mempersiapkan untuk memenuhi undangan tersebut. Dengan demikian, surat undangan adalah surat pemberitahuan akan adanya suatu acara/kegiatan pertemuan, upacara dengan harapan agar penerima undangan dapat hadir pada waktu dan tempat yang telah ditetapkan. 1. Bagian-Bagian Surat Undangan a. Kepala Surat (1) nama badan usaha, (2) alamat badan usaha, (3) nomor telepon, (4) nomor kotak pos, (5) identitas lainnya, (6) tanggal surat, (7) nomor yang ditujukan/alamat dalam. b. Isi Surat (1) salam pembuka, (2) alasan, (3) hari dan tanggal, (4) waktu, (5) tempat, (6) acara. c. Penutup/Kaki Surat (1) nama badan usaha, (2) jabatan, (3) nama jelas, (4) nomor induk pegawai, (5) tembusan. Contoh : Surat Undangan dari Salah Satu Badan Usaha F. Surat Edaran Perkataan “edaran” berasal dari kata dasar “edar” yang berarti berputar atau berotasi. Surat edaran disebut juga sirkuler yang berarti surat tersebut dikirim kepada berbagai pihak yang bentuk dan isinya sama. 1. Pengertian Surat Edaran pada Suatu Instansi Surat edaran adalah surat pemberitahuan tertulis yang ditujukan kepada pejabat/pegawai. Surat edaran ini berisi penjelasan mengenai sesuatu hal, misalnya kebijakan pimpinan, petunjuk mengenai tata cara pelaksanaan, atau suatu peraturan perundang-undangan. Fungsi surat edaran: 1. di kalangan instansi pemerintah, merupakan surat yang dapat memberi petunjuk, penjelasan tentang pelaksanaan atau peraturan; 2. di perusahaan swasta, surat edaran dapat berfungsi sebagai pemberitahuan atau pengumuman. Macam surat edaran: 1. Surat edaran pemerintah, yaitu adanya pemberitahuan kepada seluruh rakyat Indonesia yang bersifat nasional. Misalnya: (1) edaran tentang perayaan hari besar nasional (2) edaran tentang sensus penduduk (3) edaran tentang Pemilu 2. Surat edaran dari instansi pemerintah adalah pemberitahuan dan penjelasan tentang pelaksanaan peraturan di lingkungan instansi tersebut. Misalnya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan membuat edaran tentang: (1) petunjuk kenaikan kelas (2) petunjuk UAS, penetapan waktu ujian serta penentuan pelaksanaan ujian dan petunjuk penilaian ujian serta petunjuk kelulusan ujian. 3. Surat edaran dari perusahaan, terdiri atas : (1) Surat edaran khusus adalah surat pemberitahuan sesuatu yang ditujukan untuk satu lingkungan tertentu (2) Surat edaran umum adalah surat edaran untuk memperkenalkan jasa perusahaan dan hasil produk dari ke seluruh lapisan masyarakat / khalayak. 2. Susunan Surat Edaran dari Instansi Pemerintah Bagian-bagian surat ini adalah sebagai berikut. a. Kepala surat (1) Tulisan “EDARAN” ditulis dengan huruf besar seluruhnya “Hal”, diberi garis bawah. (2) Sebelah kiri atas : Di bawah “Hal” ditulis nama pejabat dan alamat yang dituju. (3) Sebelah kanan atas : Tempat tanggal, bulan, dan tahun. b. Isi surat edaran/batang tubuh Dirumuskan dalam bentuk uraian yang terdiri atas: (1) pendahuluan (2) inti (3) penutup c. Kaki surat/bagian akhir, terdiri atas : (1) nama jabatan (2) tanda tangan pejabat yang menerbitkan surat edaran (3) nama pejabat dan NIP/NRP (4) cap dinas (5) tembusan (bila dianggap perlu)

SINTAKSIS DASAR

SINTAKSIS DASAR
Pendahuluan

Untuk mempelajari materi pokok ini, perlu diketahui bahwa morfologi bersama-sama sintaksis merupakan bagian-bagian dari subsistem gramatika atau tata bahasa. Jika dalam morfologi yang dikaji adalah struktur internal kata, maka dalam sintaksis yang dikaji adalah struktur kalimat. Dalam sintaksis, kata menjadi satuan terkecil yang membentuk satuan-santuan gramatikal yang lebih besar. Dalam prakteknya pada umumnya sintaksis membatasi kajiannya sampai dengan kalimat, maksudnya menganggap atau memperlakukan kalimat sebagai satuan terbesar. Namun, perlu disadari bahwa dalam pertuturan, kalimat bukanlah satuan yang terbesar. Kalimat menjadi bagian dari satuan yang lebih besar, yaitu wacana.
Setelah mempelajari dasar-dasar sintaksis ini, diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan berbagai konsep sintaksis yang mencakup alat sintaksis, satuan sintaksis, fungsi sintaksis, dan peran sintaksis. Oleh karena itu, topik-topik pembicaraan dalam materi pokok ini adalah alat sintaksis, satuan sintaksis, fungsi sintaksis, dan peran sintaksis.
2. Pembahasan
2.1. Alat Sintaksis
Jika diamati secara cermat, maka dapat diketahui bahwa dalam ujaran seseorang terdapat seperangkat aturan yang mengatur deretan kata-kata yang membentuk kalimat itu. Perangkat kaidah ini disebut alat sintaksis. Alat sintaksis ini merupakan bagian dari kemampuan mental penutur untuk dapat menentukan apakah urutan kata, bentuk kata, dan unsur lain yang terdapat dalam ujaran itu membentuk kalimat atau tidak, atau kalimat yang didengar atau dibacanya berterima atau tidak.
Ada sejumlah alat sintaksis yang mengatur unsur-unsur bahasa sehingga terbentuk satuan bahasa yang disebut kalimat. Alat-alat sintaksis itu adalah urutan, bentuk kata, intonasi, dan partikel atau kata tugas.
Urutan
Dalam bahasa pada umumnya peranan urutan sangat penting karena ikut menentukan makna gramatikal. Agar lebih jelas, perhatikanlah contoh kontras-kontras berikut dalam bahasa Indonesia.
air jernih dan jernih air *)
lompat jauh dan jauh lompat *)
anak kecil dan kecil anak*)
adik minum susu dan susu minum adik *)
Bentuk-bentuk yang diberi tanda diakronik *) adalah bentuk-bentuk yang tidak berterima. Hal itu dapat dipahami karena konstruksi seperti itu tidak berterima oleh penutur bahasa Indonesia. Hal itu juga menunjukkan betapa pentingnya urutan dalam kalimat. Untuk setiap bahasa derajat pentingnya peranan urutan tidak sama. Bahasa-bahasa yang lebih banyak mengandalkan bentuk, pada umumnya kurang mementingkan peran urutan. Dalam bahasa Latin, misalnya, urutan atau posisi kata di mana pun dalam kalimat, makna kalimat itu berubah.
Contoh :
Mario vidit Santana (Mario melihat Santana).
Mario Santana vidit.
Santana vidit Mario.
Santana Mario vidit.
Bentuk Kata
Bentuk kata sebagai alat sintaksis biasanya diperlihatkan oleh afiks (imbuhan). Afiks-afiks itu memperlihatkan makna gramatikal yang beragam. Makna gramatikal itu, antara lain jumlah, orang, jenis, kala, aspek, modus, pasif, diatesis, dan sebagainya. Perhatikanlah pasangan berikut ini
Susu minum adik *)
Susu diminum adik.
Konstruksi Susu minum adik *) menunjukkan konstruksi yang tidak gramatikal, atau tidak berterima oleh penutur bahasa Indonesia. Adanya kata (bentuk) minum menyebabkan konstruksi itu tidak berterima. Baru setelah bentuk minum dibubuhi prefiks di- menjadi diminum, konstruksi tadi menjadi konstruksi yang berterima. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk kata secara nyata menentukan apakah konstruksi tersebut berwujud kalimat atau tidak. Di dalam bahasa-bahasa tertentu, pertalian bentuk menunjukkan hubungan sintaksis, misalnya persesuaian (concord). Dalam bahasa Inggris, pertalian bentuk (persesuaian) diperlihatkan oleh penggunaan demonstratif this yang menunjukkan bentuk kata-kata benda tunggal (singular nouns) dan these menunjukkan benda jamak (plural nouns).
Intonasi
Dalam tulisan, intonasi ini secara kurang sempurna dinyatakan oleh pemakaian huruf dan tanda-tanda baca. Dalam bahasa Indonesia, misalnya, batas anatara subjek dan predikat ditunjukkan oleh intonasi. Di samping itu intonasi dipakai juga untuk menjelaskan amanat yang hendak disampaikan. Hal ini biasanya meniadakan salah mengerti yang disebabkan adanya tafsir ganda.
Laki-laki / dan perempuan muda (orang muda perempuan) atau laki-laki dan perempuan/muda (yang muda kedua-duanya). Dengan intonasi orang sering pula dapat membedakan jenis kalimat mana deklaratif, interogatif, imperatif atau eksklamasi.
Partikel atau Kata Tugas
Partikel atau kata tugas sebagai salah satu alat sintaksis mempunyai ciri-ciri yang membedakannya dengan kategori kata yang lain. Ciri-ciri itu, antara lain (1) jumlahnya terbatas, (2) keanggotaannya boleh dikatakan tertutup, (3) kebanyakan istilah mengalami proses morfologis, (4) biasanya memiliki makna gramatikal dan bukan leksikal, dan (5) terdapat dalam semua wacana. Jika ada konstruksi :
Dia ... Medan.
maka isian konstruksi itu yang paling berterima adalah dari, ke, dan di, sehingga konstruksi selengkapnya adalah sebagai berikut.
Dia dari Medan.
Dia ke Medan.
Dia di Medan.
2.2. Satuan Sintaksis
Kata Sebagai Satuan Sintaksis
Dalam tataran morfologi kata merupakan satuan terbesar (satuan terkecilnya adalah morfem), tetapi dalam tataran sintaksis kata merupakan satuan terkecil, yang secara hirarkis menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar, yaitu frase. Sebagai satuan morfologi kata merupakan satuan terbesar. Sedangkan di sini, kata hanya dibicarakan sebagai satuan terkecil dalam sintaksis, yaitu dalam hubungannya dengan unsur-unsur pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar, yaitu frase, klausa, dan kalimat. Sebagai satuan terkecil dalam sintaksis, kata berperanan sebagai pengisi fungsi sintaksis, sebagai penanda kategori sintaksis, dan sebagai perangkai dalam penyatuan satuan-satuan atau bagian-bagian dari satuan sintaksis.
Dalam pembicaraan kata sebagai pengisi satuan sintaksis, pertama-tama harus dibedakan terlebih dahulu adanya dua macam kata, yaitu yang disebut kata penuh (full word) dan kata tugas (function word). Kata penuh adalah kata yang secara leksikal memiliki makna, mempunyai kemungkinan untuk mengalami proses morfologi, merupakan kelas terbuka, dan dapat berdiri sebagai sebuah satuan tuturan. Sedangkan yang disebut kata tugas adalah kata yang secara leksikal tidak mempunyai makna, tidak mengalami proses morfologi, merupakan kelas tertutup, dan di dalam pertuturan dia tidak dapat berdiri sendiri.
Yang merupakan kata penuh adalah kata-kata yang termasuk kategori nomina, verba, ajektiva, adverbia, dan numeralia. Sedangkan yang termasuk kata tugas adalah kata-kata yang berkategori preposisi dan konjungsi. Sebagai kata penuh, kata-kata yang berkategori nomina, verba, dan ajektiva memiliki makna leksikal masing-masing, misalnya kata kucing dan mesjid, yang memiliki makna ’sejenis binatang buas’ dan ’tempat ibadah orang Islam. Bandingkan dengan kata dan dan meskipun yang memang tidak mempunyai makna leksikal, tetapi mempunyai tugas sintaksis; dan untuk menggabungkan menambah dua buah konstituen; dan meskipun untuk menggabungkan menyatakan penegas. Sebagai kata penuh kata-kata yang berkategori nomina, verba, dan ajektiva dapat mengalami proses morfologi, seperti kata kucing yang dapat diberi prefiks ber- disertai perulangan, dan diberi sufiks – an sehingga menjadi berkucing-kucingan. Bandingkan dengan kata-kata yang tidak bisa menjadi berdan *) atau mendankan *). Dalam bahasa Inggris preposisi seperti for dan in, juga tidak mengalami proses morfologi, tidak seperti nomina book dan verba write yang dapat menjadi books (proses penambahan sufiks jamak –s) dan writes atau wrote (perubahan untuk persona ketiga dan untuk kata lampau). Dalam bahasa Arab kategori yang disebut harfun seperti inna, low, dan min juga tidak mengalami proses morfologi. Berbeda dengan kategori yang disebut ismun dan fi’lun yang dapat mengalami proses morfologi, seperti dari nomina muslimun yang dapat muslima; dan muslimu ; na ; dan dari akar verba +k – t – b yang antara lain dapat menjadi katab, yaktubu, dan maktab.
Sudah dijelaskan bahwa kata adalah satuan gramatikal yang bebas dan terkecil. Dengan terkecil maksudnya tidak dapat disegmentasikan lagi menjadi yang lebih kecil tanpa merusak makna; dan dengan bebas berarti satuan yang disebut kata itu dapat berdiri di dalam kalimat atau pertuturan. Namun di sini perlu dicatat adanya derajat kebebasan di antara satuan yang disebut kata itu. Kata-kata yang termasuk kata penuh memang mempunyai kebebasan yang mutlak, atau hampir mutlak, sehingga dapat menjadi pengisi fungsi-fungsi sintaksis. Sedangkan yang termasuk kata tugas mempunyai kebebasan yang terbatas. Sesuai dengan namanya, yaitu kata tugas, dia selalu terikat dengan kata yang ada di belakangnya (untuk preposisi), atau yang berada di depannya (untuk posposisi), dan dengan kata-kata yang dirangkaikannya (untuk konjungsi). Kecuali, barangkali, kalau preposisi atau konjungsi itu menjadi topik pembicaraan, tentu akan tampak bebas Perhatikan kedua kalimat berikut.
Pak Gito menerangkan penulisan awalan di- dan kata depan di.
Bu Titin membahas penggunaan preposisi in, on, dan at dalam bahasa Inggris.
Tetapi di sini juga, yang dijelaskan Pak Gito bukan di itu, melainkan kata depan di dan awalan di-, dan yang dibahas Bu Titin juga bukan in, on, dan at itu, melainkan preposisi in, on, dan at.
Dari pembicaraan beda antara kata penuh dengan kata tugas di atas tampak bahwa hanya yang disebut kata penuh sajalah yang dapat mengisi fungsi-fungsi sintaksis. Misalnya kata ayah yang mengisi fungsi subjek, kata membaca yang mengisi fungsi predikat, kata majalah yang mengisi fungsi objek, sedangkan preposisi di bersama kata beranda depan membentuk frase eksosentrik di beranda depan hanya merupakan anggota dari pengisi fungsi keterangan. Perhatikanlah bagan berikut.
S
P
O
K
Ayah
membaca
majalah
di beranda depan
Keterikatan preeposisi di dengan frase beranda depan dalam frase di beranda depan itu sangat erat, sehingga tidak mungkin dilepaskan. Oleh karena itu, kata-kata yang termasuk kata penuh karena dapat bersendiri mengisi salah satu fungsi sintaktik dapat pula berdiri sendiri sebagai kalimat jawaban atau kalimat perintah, atau kalimat minor lainnya.
Contoh :
Ayah. (sebagai kalimat jawaban atas pertanyaan : siapa yang membaca majalah di beranda depan ?)
Majalah. (sebagai kalimat jawaban atas pertanyaan : Apa yang dibaca di beranda depan ?)
Pinggir ! (sebagai kalimat perintah dari seorang penumpang bus umum kepada supir).
Untuk bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, ujaran yang berupa satuan sintaksis dapat disegmentasikan dengan mudah atas kata-kata yang menjadi pengisi fungsi-fungsi sintaksisnya. Namun, dalam beberapa bahasa tertentu, misalnya bahasa Swahili (di Afrika Timur), mungkin sulit untuk memberi perlakuan terhadap bahasa itu seperti yang diperlakukan terhadap bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, karena konstituen-konstituen segmentalnya terikat erat sebagai suatu kata, meskipun masih dapat dianalisis. Perhatikanlah dan carilah mana konstituen segmental yang menyatakan kata ganti pelaku, verba, aspek, dan kata ganti sasaran dari data bahasa Swahili berikut. Perhatikan juga maknanya !
wamempiga ’mereka telah memukulnya’
nimempiga ’saya telah memukulnya’
umempiga ’kamu telah memukulnya’
amempiga ’ia telah memukulnya’
atakupiga ’ia akan memukulmu’
amekupiga ’ia telah memukulmu’
nitakupiga ’saya akan memukulnya’
ata kulipa ’ia akan membayarmu’
Meskipun dapat dianalisis dengan cara membanding-bandingkan unsur-unsurnya, tetapi dapatkah, misalnya, a yang menyatakan ia dan ni yang menyatakan saya disebut sebagai sebuah kata penuh ? Karena tampaknya unsur tersebut harus dilekatkan pada unsur-unsur lainnya. Jadi, dengan melihat data bahasa Swahili di atas perlu dipertimbangkan kembali secara kritis.
Frase Sebagai Satuan Sintaksis
Frase adalah suatu konstruksi atau satuan gramatikal yang terdiri dari dua kata atau lebih, yang tidak berciri klausa dan yang pada umumnya menjadi pembentuk. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan tidak berciri klausa ialah bahwa konstruksi frase itu tidak memiliki unsur predikat, sehingga sering dikatakan tidak berstruktur predikatif. Unsur-unsur yang membentuk frase adalah morfem bebas dan bukan morfem terikat. Perhatikanlah pasangan contoh yang di bawah ini.
sudah pulang antar bangsa*)
kulit kayu amoral *)
Konstruksi antarbangsa dan amoral bukan frase karena unsur pembentuknya bukan morfem bebas melainkan morfem terikat, yaitu antar bangsa dan a moral, antar dan a adalah morfem terikat, bukan morfem bebas.
Sama halnya dengan kata, frase dapat berdiri sendiri dan jika dipindahkan letaknya dalam kalimat, secara lengkap tidak dapat dipisahkan sendirian. Misalnya pada ujaran pemimpin antarbangsa. Kata bangsa tidak dipisahkan dari antar. Sebagaimana halnya kata, frase juga berperan mengisi fungsi sintaksis, baik sebagai subjek, predikat, objek, maupun keterangan contoh :
Mahasiswa Jurusan Seni Rupa Unimed mengadakan pameran lukisan.

S P O
(Dalam hal ini, mahasiswa Jurusan Seni Rupa Unimed dan pameran lukisan masing-masing adalah frase yang mengisi fungsi subjek dan objek).
Selanjutnya, perlu pula diketahui bahwa pada umumnya frase dapat diperluas. Perhatikanlah contoh yang di bawah ini.
Ia datang kemarin.
Ia sudah datang kemarin petang.
Ia pasti sudah datang kemarin petang itu.
Kata pasti merupakan perluasan dari frase sudah datang dan kata itu merupakan perluasan dari frase kemarin petang.
Klausa Sebagai Satuan Sintaksis
Klausa adalah satuan gramatikal yang disusun oleh kata dan atau frase ; dan mempunyai satu predikat. Atau dapat dikatakan frase adalah gabungan dua kata atau lebih yang memiliki struktur subjek dan predikat. Subjek adalah bagian klausa yang berwujud nomina atau frase nominal, yang menandai apa yang dinyatakan oleh pembicara. Yang dimaksud dengan predikat adalah bagian klausa yang menandai apa yang dikatakan oleh pembicara tentang subjek. Predikat dapat berwujud nomina, verba, ajektiva, numeralia, pronomina, atau frase preposisional.
Contoh :
Tanaman itu subur
Pembicara membicarakan tanaman itu, itulah subjek klausa. Lalu mengenai tanaman itu yang menyebabkannya subur, bagian ini disebut predikat. Oleh karena klausa sebagai satuan sintaksis, maka pada umumnya klausa menjadi konstituen (unsur pembentuk) kalimat. Namun, klausa dapat menjadi kalimat kalau kepadanya dikenakan intonasi final, yang dalam bahasa tulis biasanya diakhiri dengan tanda titik. Klausa dapat juga menjadi bagian dari sebuah kalimat. Perhatikanlah contoh yang di bawah ini.
Saya lihat bahwa Pak Barus sedang membuat skenario drama.
Pada kalimat ini Pak Barus sedang membuat skenario drama adalah sebuah klausa, yang merupakan bagian dari kalimat tersebut. Klausa dapat diperluas dengan menambahkan keterangan waktu, tempat, cara, dengan menambahkan keterangan. Keterangan itu tidak merupakan unsur inti klausa. Dalam klausa ibu membeli roti di warung unsur inti klausa itu adalah ibu (subjek) dan membeli (predikat), sedangkan roti (objek) dan di warung (keterangan) bukan merupakan unsur inti klausa.
Kalimat Sebagai Satuan Sintaksis
Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final, dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa. Dalam ragam tulis kalimat itu sebagian besar ditandai oleh huruf kapital di awalnya dan oleh tanda akhir seperti tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru.
Contoh :
(1) Kopi ini / masih panas
2 3 3 / 2 3 1 #
(2) Orang itu / sedang minum apa ?
2 3 3 / 2 3 1 #
Perlu dicatat bahwa intonasi final yang menandai kalimat itu adalah memberi ciri kalimat deklaratif dan kalimat interogatif (untuk kalimat (1) dan (2) ).
Kalimat dapat digolongkan atas kalimat inti dan bukan inti, kalimat tunggal dan kalimat majemuk, kalimat verbal dan kalimat non – verbal, dan kalimat bebas dan kalimat terikat.
Kalimat inti yang biasa disebut kalimat dasar adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti, yang lengkap, deklaratif, aktif, netral, dan afirmatif. Dalam bahasa Indonesia terdapat kalimat inti dengan pola :
(1) FN + FV : Adik datang
(2) FN + FV + FN : Adik membeli buku
(3) FN + FV + FN + FN : Adik membeli Siti buku
(4) FN + FN : Adik pelajar
(5) FN + FA : Adik gemuk
(6) FN + Fnum : Ayamnya sepuluh ekor
(7) FN + FP : Pulpennya di lanci.
Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa, misalnya Adikku sedang belajar. Sedangkan kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari lebih dari satu klausa, seperti Mereka bernyanyi dan menari sepanjang hari.
Kalimat mayor adalah kalimat yang klausanya lengkap, misalnya Adik membaca cerpen. Sedangkan kalimat minor adalah kalimat yang unsur klausanya tidak lengkap, misalnya Sedang mandi.
Kalimat verbal adalah kalimat yang predikatnya verba atau kata kerja, seperti Dede menendang bola, dan kalimat non–verbal adalah kalimat yang predikatnya selain kata kerja, misalnya Togar mahasiswa Unimed.
Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap, tanpa bantuan kalimat lain dalam paragraf atau wacana. Sebaliknya kalimat terikat adalah kalimat yang dalam paragraf atau wacana terikat oleh kalimat yang lain, atau kalimat yang terikat oleh konteks.
2.3. Fungsi Sintaksis
Posisi – posisi satuan sintaksis yang juga disebut gatra, merujuk kepada fungsi gramatikal. Fungsi gramatikal menjadi wadah bagi setiap satuan sintaksis, serta bagi makna situasional satuan sintaksis itu.
Secara umum terdapat empat fungsi sintaksis yaitu S (Subjek), P (Predikat), O (Objek), dan K (Keterangan).
Contoh :
S P O K
Kakak / membeli / buku / di toko buku
Secara lengkap menggambarkan fungsi-fungsi sintaksis, seperti dalam diagram berikut ini, yaitu kalimat dibagi atas subjek dan predikat. Predikat dibagi atas objek dan keterangan. Keterangan dibagi atas keterangan waktu, keterangan tempat, dan seterusnya.
Subjek
Predikat
Predikat verbal
Objek
Keterangan
Ket.
tempat
Ket.
waktu
Ket.
dst.
Selain itu, kalimat dapat juga dibagi atas subjek, predikat, dan keterangan. Lalu keterangan dibagi lagi atas objek dan keterangan tempat, waktu, dan seterusnya. Diagramnya adalah sebagai berikut.
Subjek
Predikat
Keterangan
Objek
Ket.
tempat
Ket.
waktu
dst.
2.4. Peran Sintaksis
Dalam pembentukan suatu konstruksi, misalnya kalimat, setiap unsur memiliki andil dalam membentuk makna secara keseluruhan. Dengan kata lain, konstituen itu memiliki peran gramatikal masing-masing. Macam peran itu banyak. Beberapa di antaranya adalah pelaku (agentif), tujuan (objektif), penerima (benetaktif), penyebab (kausatif), alat (instrumental), waktu (temporal), tempat (lokatif), tindakan (aktif), sandangan (pasif), dan pemilikan (posesif). Berikut ini disajikan beberapa contoh peran.
Ayah mencari ibu
(pelaku) (tindakan) (tujuan)
Ibu dicari ayah
(tujuan) (sandangan) (pelaku)
Ayah membelikan ibu sarung
(pelaku) (tindakan) (penerima) (tujuan)
3. Penutup
Dari keseluruhan uraian pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut.
(1) Alat sintaksis adalah seperangkat kaidah dalam ujaran, yang mengatur deretan kata-kata yang membentuk kalimat. Alat-alat sintaksis itu adalah urutan, bentuk kata, intonasi, dan partikel atau kata tugas.
(2) Satuan sintaksis adalah kata, frase, klausa, dan kalimat. Dalam hal ini, kata merupakan satuan terkecil dalam sintaksis, yang berfungsi sebagai unsur pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar, yaitu frase, kalusa, dan kalimat.
(3) Ada empat fungsi sintaksis, yaitu subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan (K).
(4) Peran sintaksis adalah peran gramatikal setiap konstituen konstruksi sintaksis. Beberapa di antaranya adalah pelaku (agentif), tujuan (objektif), penerima (benetaktif), penyebab (kausatif), alat (instrumental), waktu (temporal), tempat (lokatif), tindakan (aktif), sandangan (pasif), dan pemilikan (posesif).
EVALUASI
1. Tes
Petunjuk : Berilah tanda kali (X) pada huruf yang terdapat di depan jawaban yang paling tepat menurut pendapat Anda untuk setiap soal yang di bawah ini.
1. Yang dimaksud dengan alat sintaksis ialah . . .
A. Seperangkat kaidah dalam ujaran, yang mengatur deretan kata-kata yang membentuk frase.
B. Bagian dari kemampuan mental penutur untuk dapat menentukan apakah urutan kata dalam ujaran termasuk klausa atau tidak.
C. Seperangkat kaidah dalam ujaran, yang mengatur deretan kata-kata yang membentuk kalimat.
D. Bagian dari kemampuan mental penutur untuk dapat menentukan apakah urutan bentuk kata termasuk frase atau tidak.
2. Dalam bahasa pada umumnya peranan urutan sangat penting karena ikut menentukan . . .
A. makna gramatikal
B. makna leksikal
C. makna konseptual
D. makna referensial
3. Dalam bahasa Inggris afiks yang menunjukkan makna gramatikal orang adalah . . .
A. –or
B. – ing
C. – is
D. – ist
4. Konstruksi sintaksis yang berterima dalam bahasa Indonesia terdapat pada kalimat . . .
A. Saya mimpi tadi malam
B. Dia bangun pukul 05.00
C. Ibunya jualan di pasar
D. Mereka titip barang itu di rumah saya
5. Kalimat yang intonasinya untuk menjelaskan amanat bahwa yang mati adalah kucing, yaitu . . .
A. Kucing / makan tikus mati di dapur
B. Kucing makan / tikus mati di dapur
C. Kucing makan tikus / mati di dapur
D. Kucing makan tikus mati / di dapur
6. Yang bukan menjadi ciri partikel atau kata tugas sebagai salah satu alat sintaksis adalah . . .
A. jumlahnya terbatas
B. keanggotannya tertutup
C. memiliki makna leksikal
D. memiliki makna gramatikal
7. Saya sudah tahu . . . Pak Hasan tidak menyetujui keputusan itu. Isian konstruksi itu yang paling berterima adalah . . .
A. kalau
B. bahwa
C. jika
D. karena
8. Salah satu ciri kata penuh pengisi satuan sintaksis adalah . . .
A. berkategori preposisi dan konjungsi
B. dapat mengalami proses morfologi
C. secara leksikal tidak bermakna
D. tergolong ke dalam kelas tertutup
9. Dengan kata tugas ketika atau sewaktu konstruksi – konstruksi yang di bawah ini dapat menjadi kalimat yang berterima, kecuali . . .
A. . . . sakit, Bu Wina sudah beberapa hari tidak mengikuti perkuliahan.
B. Gadis itu sedang termenung . . . Ali menghampirinya dengan perlahan – lahan.
C. . . . saya sedang merancang sebuah RPP, Pak Tarigan datang ke rumah saya.
D. Pak Sarimo mampir ke rumah kami . . . hujan mulai turun.
10. Kata – kata yang tidak dapat mengisi fungsi – fungsi sintaksis adalah kata – kata yang tergolong ke dalam . . .
A. Kata tugas
B. Kata benda
C. Kata kerja
D. Kata sifat
11. Semua satuan bahasa yang di bawah ini dapat berperan sebagai satuan sintaksis, kecuali . . .
A. cantik sekali, sangat besar, amat sukar, kurang baik
B. sedang mengajar, sudah berlalu, belum berbuah, tengah bekerja
C. rumah kecil, tenda biru, gunung tinggi, kantor gubernur
D. antar kota, ekstrakurikuler, prasejarah, intrakurikuler
12. Satuan – satuan sintaksis yang di bawah ini tergolong ke dalam klausa, kecuali . .
A. setelah Indonesia merdeka
B. orang – orang Cina pindah ke kota
C. sesudah membaca buku
D. mesjid raya kota Medan
13. Semua hal yang dinyatakan berikut ini adalah ciri – ciri klausa, kecuali . . .
A. tersusun hanya dengan frase
B. dapat menjadi bagian sebuah kalimat
C. mempunyai satu predikat
D. dapat diperluas dengan menambahkan keterangan
14. Berikut ini adalah ciri-ciri kalimat sebagai satuan sintaksis, kecuali . . .
A. mempunyai pola intonasi final
B. terdiri dari klausa
C. tidak dapat berdiri sendiri
D. secara tertulis diawali huruf kapital
15. Kalimat inti yang berpola FN + FV + FN adalah . . .
A. Kami pergi ke kampus
B. Kakak membaca buku
C. Bonekanya di lantai
D. Kudanya dua ekor
16. Kalimat yang klausanya lengkap, disebut . . .
A. Kalimat verbal
B. Kalimat non verbal
C. Kalimat minor
D. Kalimat mayor
17. Ditinjau dari fungsi sintaksis, yang berpola O – P – S adalah kalimat . . .
A. Rumah itu sudah dijual pemiliknya
B. Engkau harus membantu mereka
C. Pesawat sudah mendarat di Bandara Polonia
D. Sudah saya baca surat keputusannya
18. Ditinjau dari fungsi sintaksis, kalimat Laporan pelaksanaan pelatihan itu sudah kami buat, berpola . . .
A. S – O – P
B. S – P – O
C. O – P – S
D. K – S – P
19. Kalimat yang konstituen – konstituennya memiliki peran agentif, tindakan, lokatif, dan kausatif adalah . . .
A. Ali membelah kayu itu dengan kampak
B. Dia tidak bekerja karena sakit
C. Karena hujan, ayah mampir ke rumah Pak Ali
D. Oleh sebab itu, dia tidak menghadiri rapat itu
20. Konstituen – konstituen kalimat Ibu mengiris bawang dengan pisau memiliki peran gramatikal sebagai berikut.
A. agentif, tindakan, sandangan, dan instrumental
B. agentif, tindakan, objektif, dan instrumental
C. agentif, sandangan, objektif, dan instrumental
D. agentif, sandangan, benetaktif, dan instrumental
2. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang ada pada bagian akhir evaluasi ini, dan hitunglah jawaban Anda yang benar. Kemudian gunakan rumus yang di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda dalam materi pembelajaran.
Tingkat penguasaan = x 100 %
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai adalah sebagai berikut.
90 % - 100 % = sangat baik
80 % - 89 % = baik
70 % - 79 % = cukup
60 % - 69 % = kurang
< style=""> = sangat kurang
Bila Anda mencapai tingkat penguasaan 90 % atau lebih, maka Anda telah lulus dalam materi pembelajaran ini. Tetapi bila tingkat penguasaan Anda kurang dari 90%, Anda harus mempelajari kembali materi pembelajaran ini, terutama bagian yang belum Anda kuasai.
3. Kunci Jawaban
1. C 11. D
2. A 12. D
3. D 13. A
4. B 14. C
5. C 15. B
6. C 16. D
7. B 17. D
8. B 18. A
9. A 19. C
10. A 20. B
REFERENSI
Arikunto, S. (2005). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT. Bumi Aksara
Atkinson, M. dkk. (1988). Foundation of General Linguistics. London : Unwin Hyman
Bolinger, D.L. (1975). Aspects of Language. New York : Harcourt, Brace & World Inc.
Ramlan, M. (1983). Ilmu Bahasa : Sintaksis. Yogyakarta : CV Karyono
Tarigan, H.G. (1985). Prinsip-Prinsip Dasar Sintaksis, Bandung : Angkasa